Sukun –  Arthocarpus altilis

Sukun – Arthocarpus altilis


Klasifikasi Ilmiah 

Kingdom : Plantae 

Divisi : Spermathophyta 

Kelas : Dycotylodonae 

Ordo : Rosales 

Famili : Moraceae 

Genus : Arthocarpus 

Spesies : Arthocarpus altilis


Deskripsi 

Tanaman sukun memiliki batang kayu yang lunak, kulit batang berwarna hijau kecoklatan, berserat kasar dan pada semua bagian tanaman memiliki getah encer. Akar tanaman sukun biasanya ada yang tumbuh mendatar atau menjalar dekat permukaan tanah dan dapat menumbuhkan tunas alami. Buah sukun berbentuk bulat sampai lonjong dengan ukuran panjang bisa lebih dari 30 cm, lebar 9-20 cm, dengan daging buah berwarna putih, putih-kekuningan atau kuning.


Fungsi

Bagi masyarakat Indonesia, konsumsi buah sukun umumnya masih terbatas sebagai makanan ringan dan sayur. Sebagai salah satu sumber bahan pangan alternatif, buah sukun terbukti memiliki kandungan gizi cukup tinggi.

Buah sukun mengandung berbagai jenis zat gizi utama yaitu karbohidrat 25%, protein 1,5% dan lemak 0,3% dari berat buah sukun.


Habitat 

Sukun (Arthocarpus altilis) merupakan salah satu tanaman penghasil buah utama dari keluarga Moraceae. Tanaman ini sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia bahkan di beberapa negara di kawasan Pasifik seperti Fiji, Tahiti, Kepulauan Samoa, dan Hawai dan Indonesia.


Perawatan 

Biasanya, jika pohon sukun memiliki daun yang terlalu rimbun, dulur perlu melakukan pemangkasan. Hal ini agar tidak ada bagian pohon yang terhalang mendapat asupan sinar matahari. Dulur juga bisa memangkas cabang pohon agar muncul banyak tunas pada pohon sukun dulur. 

Selain itu, penting untuk dilakukan pemupukan agar pohon sukun terus mendapatkan asupan yang bergizi. Biasanya, pemupukan dulur lakukan 3 bulan sekali. Tapi, saat sukun sudah berbuah, intensitasnya bisa dulur kurangi menjadi setahun 2 kali saja. 


Referensi 

Adinugraha, H. A., and N. K. Kartikawati. “Variasi Morfologi Dan Kandungan Gizi Buah Sukun.” Wana Benih, 2012.

Prastyono, S. D., H. A. Adinugroho, and N. K. Kartikawati. “Pengembangan Teknik Budidaya Sukun (Artocarpus Altilis) Untuk Ketahanan Pangan.” Jakarta: IPB Press, 2014.

Siregar, A. S. Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus Communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara. repositori.usu.ac.id, 2009. https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/64076.


Beringin –  Ficus Benjamina

Beringin – Ficus Benjamina

 


Klasifikasi Ilmiah 

Kingdom : Plantae 

Divisi : Tracheophyta 

Kelas : Magnoliopsida 

Ordo : Rosales 

Famili : Moraceae 

Genus : Ficus L.

Spesies : Ficus Benjamina L.


Deskripsi 

Pohon beringin memiliki ciri khas berupa akar gantung yang menjulur dari atas ke bawah dalam jumlah banyak, sehingga tampak seperti garis-garis vertikal yang menopang pohon tersebut.

Tanaman ini dapat tumbuh hingga mencapai sekitar 20-25 meter. Batang tegak, bulat, percabangan simpodial, permukaan kasar, pada batang tumbuh akar gantung berwarna coklat kehitaman.


Fungsi

Pohon beringin atau Ficus benjamina terkenal memiliki banyak manfaat dalam bidang kesehatan. Getah dan daunnya sering digunakan oleh masyarakat sebagai obat peradangan, kulit, gangguan pencernaan, kusta, dan malaria. 

Pohon beringin juga memiliki potensi sebagai obat antibakteri, antinyeri, antidemam, dan antikanker. Tidak hanya di bidang kesehatan, daun dan rantingnya juga sering dipakai sebagai repellant serangga dalam Masyarakat.


Habitat 

Pohon beringin (Ficus benjamina Linn.) merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia. Pohon beringin yang merupakan tanaman asli Asia Tenggara termasuk dari Indonesia dan sebagian Australia.


Referensi 

Aslamiah, S., and H. Haryadi. “Identifikasi Kandungan Kimia Daun Pohon Beringin (Ficus Benyamina L.) Sebagai Obat Tradisional.” Anterior Jurnal, 2013. https://journal.umpr.ac.id/index.php/anterior/article/view/287.

Mudawaroch, R. E., A. Pangestu, and ... “Pengadaan Dan Penanaman Pohon Beringin (Ficus Benjamina L) Sebagai Upaya Penanggulangan Longsor.” Prosiding Seminar …, 2021. https://ojs-upgrade.ummat.ac.id/index.php/SEMNASPUMMAT/article/view/6564.

Wibowo, F., A. P. Wicaksono, and ... “Klasifikasi Tanaman Beringin (Ficus Bernjamina) Berdasarkan Citra Daun Menggunakan Algoritma K-Nearest Neighbors.” Jurnal Teknologi Dan …, 2021. https://jurnal.unmer.ac.id/index.php/jtmi/article/view/6758.


Jambu Mawar –  Syzygium jambos

Jambu Mawar – Syzygium jambos

 


Klasifikasi Ilmiah 

Kingdom : Plantae 

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida 

Ordo : Myrtales 

Famili : Myrtaceae 

Genus : Syzygium

Spesies : Syzygium jambos


Deskripsi 

Postur pohon jambu mawar tidak terlalu besar, tingginya mencapai 10 m. Batangnya berwarna coklat pucat, dengan percabangan rendah dan melebar. Memiliki sistem perakar tunggal, daunnya berbentuk lanset, tebal, licin. Ketika masih muda warnanya merah muda mengkilat, selanjutnya menjadi hijau tua bila sudah tua.

 Bunganya berwarna putih atau krem pucat, besar, mencolok dan baunya harum. Tangkainya pendek dan biasanya terletak pada ujung cabang-cabang yang berdaun. Buah jambu mawar berbentuk hampir bulat, agak lonjong atau melebar pada dasarnya, garis tengahnya 4-5 cm. Bila sudah masak warnanya kuning pucat atau kehijau-hijauan, dengan kulit yang licin dan agak keras. Warna bijinya coklat dan jumlahnya satu sampai dua.


Fungsi

Jambu mawar merupakan salah satu tanaman tropis khas Indonesia yang digunakan sebagai obat tradisional yang mengandung senyawa antibakteri tetapi tanaman ini sangat jarang ditemukan dan belum dikenal oleh masyarakat.


 Habitat 

Jambu mawar alias jambu kraton adalah anggota suku jambu-jambuan atau Myrtaceae yang berasal dari Asia Tenggara, khususnya di wilayah Malaysia. Dinamai demikian karena buah jambu ini memiliki aroma wangi yang khas seperti mawar. Tanaman ini dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah, dengan drainase, dapat ditanam di daerah pantai sampai pegunungan setinggi 1.200 m di atas permukaan laut.

 Mengikuti peradaban manusia, tanaman ini disebarluaskan ke pelbagai wilayah tropis di dunia sejak beratus tahun yang lalu. Sebagian di antaranya telah meliar kembali di alamnya yang baru. Di beberapa negara, tanaman yang mudah beradaptasi dan berbiak ini kini mulai dianggap sebagai ancaman, karena cenderung bersifat sedikit invasif.


Perawatan

Jambu Mawar dikenal karena kebutuhan perawatannya yang relatif sederhana. Poin perawatan khusus yang penting termasuk memastikan tanah memiliki drainase baik tetapi tetap lembap, serta menyediakan akses sinar matahari penuh untuk pertumbuhan optimal. 

Pemangkasan secara teratur untuk mempertahankan bentuk dan mendorong sirkulasi udara sangat penting mengingat pertumbuhannya yang cepat. 


 Referensi 

Soetomo, S., E. Eviyana, N. A. Choironi, and ... “Isolasi Dan Identifikasi Senyawa Aktif Dari Daun Jambu Mawar (Syzygium Jambos (L.) Alston.” Jurnal Sains Dan …, 2019. https://garuda.kemdikbud.go.id/documents/detail/2821592.

Wibisono, G. Y. “Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Dan Kulit Batang Jambu Mawar (Syzygium Jambos (L.) Alston) Terhadap Staphylococcus Aureus IFO 13276 Dan Escherichia ….” e-journal.uajy.ac.id, 2012. http://e-journal.uajy.ac.id/379/6/5BL01050.pdf.


Palem tulang ikan – caryota urens L.

Palem tulang ikan – caryota urens L.

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : liliopsida

Subkelas : arecidae 

Ordo : arecales

Famili : arecaceae

Genus : caryota

Spesies : caryota urens L.


Deskripsi

Spesies Caryota merupakan satu satunya palem yang memiliki daun berbentuk bipinate. Daun berbentuk seperti ekor ikan oleh karena itu palem ini dijuluki fishtail palm. Caryota urens tersebar di daerah tropis. Tumbuhan ini tumbuh baik di tanah gembur dan lembab. Caryota berasal dari kata Yunani karyotes, yang artinya "nutlike." , urens dalam bahasa latin berarti "menyengat," yaitu sejenis minuman tuak sawit, anggur sawit dan Jaggery sawit. C. urens tumbuh di bawah hutan tropis pada ketinggian 300 - 1500 m dpl. Caryota urens merupakan pohon dengan tinggi hingga 15 m dan memiliki diameter batang mencapai 30 cm. Daun bipinnate berbentuk segitiga berwarna hijau terang hingga hijau tua. Pembungaan berbentuk tandan yang tersusun dalam bentuk malai (panicle) yang terdiri atas bulir-bulir


Fungsi 

Caryota urens dapat digunakan untuk mengobati maag, sakit kepala migrain, keracunan gigitan ular, serta pembengkakan akibat rematik.


Habitat

Tanaman ini tumbuh subur di iklim hangat, di mana sistem akar mereka yang luas membantu menopang dan secara efisien menyerap air dan nutrisi, mendukung pertumbuhan mereka dan produksi kelompok buah khas mereka. Tumbuhan ini berasal dari India, Malaysia, Myanmar, Nepal, Sri Lanka. C. urens tumbuh di bawah hutan tropis pada ketinggian 300 - 1500 m dpl.


Referensi

https://ayoketaman.com/


Darwin black wattle – acacia auriculiformis cunn. ex benth

Darwin black wattle – acacia auriculiformis cunn. ex benth

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : magnoliophyta

Subkelas : rosidae 

Ordo : fabales

Famili : fabaceae

Genus : acacia

Spesies : acacia auriculiformis cuss. ex benth


Deskripsi

Acacia auriculiformis, juga dikenal sebagai earleaf acacia atau Darwin black wattle, adalah sebuah pohon yang tumbuh cepat.

Pohon ini dapat tumbuh hingga 30 meter (98 kaki) tinggi dengan batang yang bercabang dan berdiameter hingga 50 cm (1,6 kaki).

Daun: Daunnya berbentuk panjang, lebar 1,5-2,5 cm (0,6-1,0 inci), dan memiliki 3-8 urat paralel. Daunnya tebal, lembut, dan melengkung.

Bunga: Bunganya berwarna kuning muda, panjang 8 cm (3,1 inci), dan berpasang-pasangan. Bunganya berbau harum dan beraroma manis.


Fungsi 

Digunakan sebagai tanaman hias, pohon peneduh, dan tanaman perkebunan untuk kayu bakar. Kayunya juga digunakan untuk membuat kertas, perabotan, dan alat-alat tukang. Pohon ini juga mengandung tannin yang berguna dalam tanning kulit hewan, Acacia auriculiformis memiliki beberapa manfaat lain seperti sumber makanan bagi burung seperti burung kutilang, myna, dan bulbul, serta digunakan oleh masyarakat lokal untuk berbagai keperluan


Habitat

Tegakan-tegakan alami akasia dapat dijumpai di Australia (Semenanjung Cape York, Queensland, sebelah utara Northern Territory), bagian tenggara Papua New Guinea dan Indonesia (Irian Jaya, Kepulauan Kai). Akasia telah didomestikasi sejak 50 tahun yang lalu, dan telah tersebar luas di kawasan Asia tropis. Akasia tumbuh pada daerah-daerah dataran rendah tropis beriklim lembab sampai sublembab, pada tanah-tanah di sepanjang tepi sungai, pada daerah berpasir di tepi pantai, dataran yang mengalami pasang surut air laut, danau-danau berair asin di dekat pantai, dan dataran yang tergenang air, Daerah penyebarannya memiliki rata-rata suhu maksimum 32--38 °C dan rata-rata suhu minimum 12--20°C. Curah hujan bervariasi antara 760 mm/tahun di kawasan Northern Territory (Australia) dan 2000 mm/tahun di Papua New Guinea, penyebarannya dipengaruhi oleh iklim monson yang musim keringnya dapat terjadi selama 6 bulan.


Referensi

Boro, T. L., Gaol, M. L., & Bessie, O. A. 2020. Analisis Populasi Jenis-Jenis Acacia di Kawasan Taman Hutan Raya Prof. Ir. Herman Johannes di Desa Kotabes Kecamatan Amarasi Kabupaten Kupang


Pohon naga – dracaena draco

Pohon naga – dracaena draco

 



Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : liliopsida

Subkelas : lilidae 

Ordo : liliales

Famili : agavacea

Genus : dracaena

Spesies : dracaena daraco (L.)L.


Deskripsi

Dracaena draco adalah spesies pohon tropis asli Kepulauan Canary. Ini adalah simbol nasional Tenerife. Kulit dan daun dari dracaena draco menghasilkan resin yang disebut darah naga, yang telah digunakan sebagai pewarna.

Tanaman Dracaena mampu beradaptasi dengan paparan matahari penuh ataupun dengan lingkungan teduh. Tanaman pohon naga memiliki sistem perakaran serabut, ia dapat tumbuh tegak mencapai 4 kaki dengan bentuk batang bulat dan beruas-ruas. Daun nya berbentuk tunggal, tidak bertangkai, dan pelepah memeluk batang. Daun berwarna hijau dengan tepi merah bila memperoleh cahaya yang cukup, dengan lebar daun 3-5 cm.


Fungsi 

dracaena juga berfungsi untuk menjaga kebersihan dan kesehatan. Dracaena termasuk tanaman yang digunakan oleh NASA Clean Air Study dan telah menunjukkan kemampuannya untuk membersihkan udara. Dalam hal ini ia menyerap formaldehida, benzena dan karbon monoksida dari udara


Habitat

Lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan dracaena adalah pada ketinggian 600 m – 1000 m dpl, dengan temperatur 24°C – 32°C, pada intensitas cahaya 55 – 75%, dan pH tanah 5,5 – 6,5. Tanaman hias dracaena secara umum dapat ditanam pada setiap jenis tanah. Faktor terpenting adalah tanah tersebut gembur dan berdraenase baik.


Referensi

https://www.sman1kalasan.sch.id/glossary/dracaena/


Cemara laut - Casuarina equisetifolia

Cemara laut - Casuarina equisetifolia

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Hamamelidae

Ordo : Casuarinales

Famili : Casuarinaceae

Genus : Casuarina

Spesies : Casuarina equisetifolia


Deskripsi

Casuarina equisetifolia, atau cemara laut, adalah spesies pohon yang sangat berharga karena kemampuannya beradaptasi di lingkungan pesisir. Pohon ini sering digunakan dalam proyek penghijauan pantai dan sabuk hijau karena kemampuannya menahan angin, pasir, kekeringan, serta toleransi terhadap kondisi garam. Spesies ini berperan penting dalam stabilisasi bukit pasir dan mengurangi erosi tanah di daerah pesisir. Dalam hal adaptasi fisiologis, C. equisetifolia menunjukkan pola ekspresi gen tertentu yang memungkinkannya bertahan dalam kondisi stres seperti kekurangan air dan kadar salinitas yang tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa gen NAC berperan dalam meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan dengan mengatur pertumbuhan dan mengurangi stres oksidatif (Xu et al., 2022).


Fungsi

Pohon ini sering digunakan dalam proyek penghijauan pantai dan sabuk hijau karena kemampuannya menahan angin, pasir, kekeringan, serta toleransi terhadap kondisi garam. Spesies ini berperan penting dalam stabilisasi bukit pasir dan mengurangi erosi tanah di daerah pesisir. Selain itu, pohon ini juga dikenal karena alokasi biomassa yang efisien, terutama di wilayah tropis seperti Pulau Hainan. Alokasi biomassa yang optimal pada akar, batang, cabang, dan daun memungkinkan pohon bertahan di tanah yang miskin nutrisi, yang biasa ditemukan di zona pesisir (Xue et al, 2016).


Habitat

Casuarina equisetifolia, yang dikenal juga sebagai cemara laut, terutama tumbuh di wilayah pesisir dan memiliki peran penting dalam stabilisasi pasir serta sebagai penahan angin di lingkungan tersebut. Habitat alaminya meliputi pantai berpasir dan bukit pasir di daerah tropis dan subtropis seperti Australia, Asia Tenggara, dan pulau-pulau Pasifik. Pohon ini sangat tahan terhadap kondisi keras di pesisir, termasuk kekeringan, salinitas tinggi, serta angin kencang, sehingga efektif untuk memperbaiki tanah yang terdegradasi dan melindungi garis pantai dari erosi (Lin et al., 2023).


Referensi

Lin, L., Hao, Z., Post, C. J., & Mikhailova, E. A. (2023). Protection of Coastal Shelter Forests Using UAVs: Individual Tree and Tree-Height Detection in Casuarina equisetifolia L. Forests. Forests, 14(2), 233. https://doi.org/10.3390/f14020233

Xu, H., Yu, J., You, L., Xiao, S., Nie, S., Li, T., Ye, G., & Lin, D. (2022). Drought Resistance Evaluation of Casuarina equisetifolia Half-Sib Families at the Seedling Stage and the Response of Five NAC Genes to Drought Stress. Forests, 13(12), 2037. https://doi.org/10.3390/f13122037

Xue, Y., Yang, Z., Wang, X., Lin, Z., Li, D., & Su, S. (2016). Tree Biomass Allocation and Its Model Additivity for Casuarina equisetifolia in a Tropical Forest of Hainan Island, China. PLoS ONE, 11(3), e0151858. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0151858


Palem Raja - Roystonea regia

Palem Raja - Roystonea regia

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Arecales

Famili : Arecaceae

Genus : Roystonea

Spesies : Roystonea regia 


Deskripsi

Palem raja termasuk dalam suku Arecaceae atau palem-paleman, yang merupakan tumbuhan biji tertutup (Angiospermae), dengan biji buah yang terbungkus daging. Tumbuhan ini tidak bercabang dan tumbuh tegak ke atas, dengan tinggi mencapai 20 hingga 30 meter (Helmidadang, 2012). Daun palem raja bersifat majemuk dengan beberapa anak daun yang memanjang dan ujung runcing, sementara pangkalnya berbentuk bundar dengan tulang daun menyirip. Warna daun hijau tua dan permukaannya licin.

Akar palem raja adalah akar serabut, termasuk golongan tumbuhan monokotil. Radikula pada bibit tumbuh memanjang selama sekitar 6 bulan, mencapai panjang 15 cm. Akar serabut terdiri dari serabut primer yang tumbuh vertikal ke dalam tanah dan horizontal ke samping, bercabang menjadi akar sekunder dan tersier. Kedalaman akar serabut palem raja berkisar antara 8 hingga 16 meter (Setyaningsih, 2018).

Batang palem raja lurus dan tegak tanpa cabang, dengan tinggi yang dapat mencapai 30 meter. Batang ini beruas-ruas dan karena termasuk monokotil, palem raja tidak memiliki cambium sejati, dengan saluran pembuluh yang menyebar di seluruh batang (Setyaningsih, 2018).

Bunganya terdiri dari panikula atau spadiks yang diliputi oleh spata yang bisa mengayu. Setiap bunga bisa uniseksual atau biseksual, dengan bentuk aktinomorf atau sedikit zigomorf, dan biasanya memiliki tiga sepal. Pada bunga betina, tepal biasanya berjumlah 2+2 atau kadang perianthium tereduksi atau bahkan tidak ada sama sekali, dan terdapat stamen yang umumnya berjumlah enam dalam dua lingkaran (Setyaningsih, 2018).

Buah palem raja berbentuk bulat agak oval, dengan kulit luar yang tebal, menutupi bagian dalam yang berair atau berserat. Penyerbukan antara bunga jantan dan betina berlangsung sekitar 5-6 bulan. Secara anatomi, buah terdiri dari perikarpium yang mencakup epikarpium dan mesokarpium, sementara bijinya terdiri dari endokarpium, endosperm, dan embrio. Epikarpium adalah kulit buah yang keras dan licin, sementara mesokarpium adalah daging buah yang berserabut dan mengandung minyak. Lembaga atau embrio adalah bagian dari biji yang akan menjadi tanaman baru (Setyaningsih, 2018).

Biji palem raja dilindungi oleh endokarpium yang keras dan berkayu. Serat buah dikenal sebagai sabut. Ketika masih muda, biji ini berisi cairan yang berangsur-angsur membentuk endapan dan mengeras seiring waktu, dengan kandungan lemak dan protein yang tinggi, sementara beberapa jenis biji masih menyisakan cairan di dalamnya.


Habitat

Palem raja berasal dari daerah Amerika dan Karibia. Nama Roystonea diambil dari nama seorang insinyur yang bekerja di kemiliteran AS, Roy Stone. Salah satu anggotanya, R. regia biasa ditanam di pinggir jalan atau di taman-taman. Habitat Palem raja (Roystonea regia) banyak di temukan di pulau Jawa. Palem raja bisa ditemukan di berbagai tempat sampai dan bahkan mampu tumbuh pada ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut (Putu, 2018).


Fungsi

Palem raja mempunyai beberapa manfaat antara lain sebagai berikut: Sebagai tanam hias taman, penghias pekarangan rumah, kayu bakar (pelepah) dan pohon penyejuk udara. Manfaat palem dapat dikelompokkan sebagia berikut: Sumber karbohidrat, baik dalam bentuk pati maupun gula contoh aren. sebagai sumber minyak conrohnya kelapa untuk minyak goreng. Daunnya bisa digunakan sebagai bahan anyaman. Banyak jenis palem yang sudah dimanfaatkan untuk tanaman hias jalan. (Anonimous, 2018)


Perawatan

Palem Raja adalah pohon palem yang kuat dan berkembang di berbagai kondisi, lebih menyukai iklim subtropis yang hangat hingga tropis. Dikutip dari laman PictureThis, titik perawatan kunci termasuk memastikan bahwa ia ditanam di lokasi dengan ruang yang memadai untuk status besar dan pertumbuhan vertikalnya serta penyebaran daun yang lebar. Palem Raja toleran terhadap berbagai jenis tanah tetapi terbaik tumbuh di tanah yang memiliki saluran air yang baik dengan penyiraman teratur untuk membentuk sistem akar yang dalam. Perawatannya umumnya mudah karena adaptabilitasnya dan ketahanannya terhadap hama dan penyakit.


Referensi

Anonimous. (2018). Palem Raja. Retrieved from Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas.

Anonimous. (n.d.). Panduan Perawatan Tanaman Palem Raja. Retrieved from PictureThis: https://www.picturethisai.com/id/care/Roystonea_regia.html

Helmidadang. (2012). Pohon Palem Raja. Retrieved from https://helmidadang.wordpress.com/2012/11/.../

Putu, B. (2018). Palem Raja (Roystonea regia). Retrieved from https://ganeshaflora.wordpress.com/

Setyaningsih, D. W. (2018). Pengaruh Lama Perendaman Terhadap Perkecambahan Dan Pertumbuhan Tanaman Palem Raja. AGRI-TEK: Jurnal Ilmu Pertanian, Kehutanan, dan Agroteknologi, 70-75.


Sawo Kecik - Manilkara zapota

Sawo Kecik - Manilkara zapota

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Ericales

Famili : Sapotaceae

Genus : Manilkara

Spesies : Manilkara zapota


Deskripsi

Sawo kecik (Manilkara zapota) adalah pohon buah yang dapat berbuah sepanjang tahun. Sawo kecik memiliki pohon yang besar dan rindang, dapat tumbuh hingga setinggi 30-40 m. Bunga tunggal terletak di ketiak daun dekat ujung ranting, bertangkai 1-2 cm, kerapkali menggantung, diameter bunga s/d 1,5 cm, sisi luarnya berbulu kecoklatan, berbilangan 6. Kelopak biasanya tersusun dalam dua lingkaran; mahkota bentuk genta, putih, berbagi sampai setengah panjang tabung (Morton, 1987). 

Daun tunggal, terletak berseling, sering mengumpul pada ujung ranting. Helai daun bertepi rata, sedikit berbulu, hijau tua mengkilap, bentuk bundar-telur jorong sampai agak lanset, 1,5-7 x 3,5-15 cm, pangkal dan ujungnya bentuk baji, bertangkai 1-3,5 cm, tulang daun utama menonjol di sisi sebelah bawah. Bercabang rendah, batang sawo kecik berkulit kasar abu-abu kehitaman sampai coklat tua. Seluruh bagiannya mengandung lateks, getah berwarna putih susu yang kental (Morton, 1987).

Buah buni bertangkai pendek, bulat, bulat telur atau jorong, 3-6 x 3-8 cm, coklat kemerahan sampai kekuningan di luarnya bersisik-sisik kasar coklat yang mudah mengelupas, sering ada sisa tangkai putik yang mengering di ujungnya. Berkulit tipis, daging buah lembut, coklat kemerahan sampai kekuningan, manis dan mengandung banyak sari buah. Berbiji sampai 12 11 butir, namun kebanyakan kurang dari 6, lonjong pipih, hitam atau kecoklatan mengkilap, panjang lebih kurang 2 cm, keping biji berwarna putih lilin (Morton, 1987).


Fungsi

Sawo kecik merupakan buah yang sangat populer di Asia Tenggara. Wilayah ini adalah produsen dan sekaligus konsumen utama buah ini di dunia (Juwita, 2013). Kebanyakan buah sawo kecik dimakan dalam keadaan segar. Sawo yang siap dikonsumsi adalah sawo matang. Sawo berkualitas baik adalah sawo yang empuk dan berwarna cokelat tua (Juwita, 2013).

Buah sawo memiliki rasa manis yang disebabkan kandungan gula dalam daging buah, yang kadarnya berkisar 16-20 persen. Daging buah sawo juga mengandung lemak, protein, vitamin A, B, dan C, serta mineral besi, kalsium, dan fosfor. Buah sawo juga mengandung asam folat, 14 mkg/100 g yang diperlukan tubuh manusia untuk pembentukan sel darah merah. Asam folat juga membantu pencegahan terbentuknya homosistein yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Astawan, 2008 (C, A, R, A, & H, 2010)), selain itu, buah ini juga baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah (Astawan, 2008).


Habitat

Sawo (Manilkara zapota) dikenal dengan nama sapodilla (Inggris) merupakan tanaman buah yang berasal dari Guatemala (Amerika Tengah), Meksiko dan Hindia Barat. Pada saat ini sawo telah tersebar ke negara-negara lain termasuk Indonesia yang merupakan tempat sawo tumbuh secara komersial (Sunarjono, 2007). Sawo kecik merupakan buah yang sangat populer di Asia Tenggara karena menjadi produsen dan konsumen utama buah ini di dunia (Astawan, 2011).

Tanaman sawo telah lama dikenal dan banyak ditanam di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari dataran rendah sampai tempat dengan ketinggian 1200 m dari permukaan laut seperti di pulau Jawa. Tanaman sawo telah menyebar luas di daerah tropik termasuk Indonesia. Pohon sawo dapat mencapai 20 m, buah berukuran bulat lonjong dengan permukaan kasar berwarna kecoklatan. Daging buah lunak, manis berair, dan berbiji hitam kecoklatan sebanyak hingga enam buah (Sunarjono, 2007).


Perawatan

Sawo kecik tidak memerlukan perawatan yang rumit. Pohon ini tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan, termasuk kekeringan. Untuk mendapatkan hasil buah yang optimal, pemangkasan dan penyiraman secara teratur sangat dianjurkan. Tanah tempat pohon ini tumbuh sebaiknya memiliki kandungan bahan organik yang tinggi dan kelembapan yang cukup. Penggunaan pupuk organik, seperti kompos, dapat meningkatkan produktivitas buah.


Referensi

Astawan, M. (2011). Buah Sawo Baik Untuk Jantung. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum.

C, O., A, M., R, K., A, S., & H, J. R. (2010). Agroforestree database: a tree reference and selection guide version 4.0. Retrieved from CIFOR-ICRAF: http://www.worldagroforestry.org/af/treedb/

Juwita, J. (2013). Aktivitas Antibakteri Ekstrak Buah Muda, Daun dan Kulit Batang Sawo Manila (Manilkara Zapota (L.) Van Royen) Terhadap Vibrio Cholerae dan Clostridium perfringens. S1 thesis, UAJY.

Morton, J. F. (1987). Sapodilla. (J) Fruits of Warm Climates. 

Sunarjono, H. (2007). Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah. Jakarta: Penebar Swadaya.


Palem putri  (Adonidia merrillii)

Palem putri (Adonidia merrillii)

 


Taksonomi

Kerajaan:Plantae  

Divisi:Tracheophyta  

Kelas:Liliopsida  

Ordo:Arecales  

Famili:Arecaceae  

Genus: Adonidia  

Spesies:Adonidia merrillii  


Deskripsi

Adonidia merrillii, atau dikenal sebagai Palem Putri, adalah spesies palem kecil yang berasal dari Filipina dan sering digunakan sebagai tanaman hias. Tingginya bisa mencapai 5-6 meter dengan batang tunggal yang ramping dan halus. Daunnya menyirip dan melengkung, dengan panjang daun mencapai 1,5 meter. Tanaman ini menghasilkan bunga putih krem yang menarik, dan buah berwarna merah cerah yang menambah nilai estetikanya. Buah biasanya berbentuk bulat dan sering muncul dalam kelompok di bawah dedaunan (Martin & Prasad, 2018; Llamas, 2021).


Manfaat

1.Tanaman Hias: Adonidia merrillii sangat populer sebagai tanaman hias di taman-taman tropis dan subtropis serta untuk lanskap perkotaan. Palem ini sering ditanam di sepanjang jalan, taman, dan halaman rumah karena bentuknya yang simetris dan buah merah cerah yang menarik (Paget, 2021).

2.Penggunaan Ekonomi: Selain sebagai tanaman hias, Palem Putri juga digunakan dalam industri tanaman hias untuk dijual sebagai tanaman pot karena ukurannya yang kompak dan mudah dipindahkan. Ini juga sering digunakan dalam desain lansekap karena toleransi terhadap berbagai jenis tanah dan kebutuhan perawatannya yang rendah (Paget, 2021; Turner & Rybicki, 2022).


Perawatan

1. Cahaya. 

Palem Putri memerlukan sinar matahari penuh hingga setengah teduh untuk pertumbuhan optimal. Namun, mereka dapat mentoleransi sinar matahari langsung selama sebagian besar hari.

2. Air

Tanaman ini memerlukan penyiraman yang cukup teratur, terutama di daerah kering. Mereka lebih menyukai tanah yang lembab tetapi tidak tergenang air.

3. Tanah

Adonidia merrillii dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, tetapi lebih menyukai tanah dengan drainase baik yang kaya bahan organik.

4. Pemangkasan.

 Pemangkasan diperlukan untuk menghilangkan daun mati dan menjaga penampilan tanaman tetap rapi (Anderson & Daly, 2020; Llamas, 2021).


Habitat

Adonidia merrillii, atau Palem Putri, adalah spesies palem tropis yang berasal dari Filipina, khususnya di pulau Palawan dan Visayas. Palem ini tumbuh secara alami di hutan-hutan tropis yang lembab, dataran rendah, dan dekat pantai di daerah tropis dan subtropis. Habitat aslinya mencakup area dengan tanah yang cukup lembab dan kaya akan bahan organik, serta dengan paparan sinar matahari yang cukup (Martin & Prasad, 2018; Llamas, 2021).


Palem Putri umumnya ditemukan di area dengan suhu hangat sepanjang tahun, dan lebih menyukai iklim yang memiliki kelembaban tinggi. Spesies ini mampu tumbuh diberbagai jenis tanah, termasuk tanah berpasir di pesisir, asalkan tanah tersebut memiliki drainase yang baik. Di luar habitat aslinya, Palem Putri juga telah diintroduksi dan dibudidayakan di berbagai wilayah tropis dan subtropis di seluruh dunia, seperti di Florida dan Hawaii di Amerika Serikat, serta di beberapa negara Asia Tenggara lainnya karena keindahannya dan toleransinya terhadap berbagai kondisi lingkungan (Paget, 2021; Anderson & Daly, 2020).


Daftar Pustaka

Martin, C. E., & Prasad, P. V. (2018). "Palm Trees: Growth, Distribution, and Species Diversity." Journal of Tropical Horticulture, 12(3), 45-59.  

Llamas, K. A. (2021).Ornamental Palms for Subtropical Gardens. Miami: University of Florida Press.

Paget, M. (2021). "Palms in Urban Landscaping: Uses, Management, and Conservation." Journal of Horticulture and Forestry, 13(3), 45-53.  

Turner, K. G., & Rybicki, J. (2022). "The Ecological Impact of Ornamental Palms in Non-native Environments." Biological Invasions, 24(5), 1095-1108. 

Anderson, D. A., & Daly, D. C. (2020). "Economic Botany of the Palm Genus Adonidia." Economic Botany, 74(1), 59-74.

Palm kurma (Phoenix reclinata)

Palm kurma (Phoenix reclinata)

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Phylum : Streptophyta

Class : Equisetopsida

Subclass : Magnoliidae

Order : Arecales

Family : Arecaceae

Genus : Phoenix

Species : Phoenix reclinata


Deskripsi

Phoenix reclinata (Palem Kurma Senegal) adalah palem berkelompok yang tumbuh dengan beberapa batang ramping dengan tinggi antara 7,5 hingga 15 meter. Daunnya berbentuk menyirip dan melengkung ke bawah, dengan panjang antara 2,5 hingga 4,5 meter dan berwarna hijau cerah hingga hijau tua. Palem ini bersifat dioecious, artinya memiliki bunga jantan dan betina pada tanaman yang terpisah. Tanaman betina menghasilkan buah kecil berwarna oranye yang berbentuk lonjong; meskipun buah ini dapat dimakan, dagingnya sedikit dan sebagian besar terdiri dari biji (Paget, 2021; Smith & Tucker, 2016). Palem ini berasal dari dataran semi-kering di Senegal dan wilayah lain di Afrika sub-Sahara, serta sering ditemukan di kawasan pesisir karena toleransinya terhadap semprotan garam dan kemampuannya untuk bertahan dalam kondisi kekeringan sedang (Fick & Hijmans, 2017).


Manfaat

1.Bagian yang Dapat Dimakan. Buahnya menarik perhatian hewan dan manusia; meskipun tidak begitu lezat, buah ini tetap bisa dikonsumsi. Hati palem (inti batang) dapat digunakan sebagai sayuran. Di beberapa daerah seperti KwaZulu-Natal dan Delta Okavango, getahnya digunakan untuk membuat anggur palem (Anderson & Daly, 2020; Paget, 2021).

2.Bahan Material. Serat dari daun muda digunakan untuk membuat karpet, kilt, dan sapu. Akar tanaman mengandung tanin yang digunakan sebagai pewarna coklat dan juga menghasilkan getah yang bisa dimakan (Mensah et al., 2018; Sarr & Thiam, 2019).

3.Penggunaan Dekoratif. Phoenix reclinata sering digunakan sebagai tanaman hias di taman besar, taman kota, dan lanskap perkotaan karena penampilannya yang menarik (Turner & Rybicki, 2022; Paget, 2021).


Perawatan

Phoenix reclinata membutuhkan tanah dengan drainase yang baik dan paparan sinar matahari penuh. Tanaman ini relatif tahan terhadap kekeringan, tetapi lebih menyukai kondisi dengan pasokan air yang memadai. Ia juga tahan terhadap paparan garam dan angin, yang membuatnya cocok untuk lanskap pesisir. Pemangkasan rutin diperlukan untuk menghilangkan daun mati dan menjaga bentuk tanaman. Palem ini bisa ditanam di pot besar ketika masih muda, tetapi lebih cocok ditanam di lahan terbuka yang luas seiring pertumbuhannya yang besar (Paget, 2021; Smith & Tucker, 2016).


Referensi

Fick, S. E., & Hijmans, R. J. (2017). "WorldClim 2: New 1-km spatial resolution climate surfaces for global land areas." International Journal of Climatology, 37(12), 4302-4315

Paget, M. (2021). "Phoenix reclinata as a Native Ornamental in African Landscapes: Uses, Management, and Conservation." Journal of Horticulture and Forestry, 13(3), 45-53.

Smith, J., & Tucker, C. J. (2016). "Vegetation Responses to Drought in Tropical and Subtropical Africa: Remote Sensing and Field Insights."Remote Sensing of Environment, 184, 109-122.

Anderson, D. A., & Daly, D. C. (2020). "Economic Botany of the African Palm Genus Phoenix."Economic Botany, 74(1), 59-74. 

Mensah, S., et al. (2018). "Functional and Structural Diversity of Trees in West African Savannas and Implications for Ecosystem Services." Forests, 9(9), 517. 6.

Sarr, M., & Thiam, M. (2019). "Phoenix reclinata Utilization and Conservation Strategies in Senegal." African Journal of Ecology, 57(2), 203-211. .

Turner, K. G., & Rybicki, J. (2022). "The Ecological Impact of Ornamental Palms in Non-native Environments." Biological Invasions, 24(5), 1095-1108.


Glodokan tiang - Monoon longifolium

Glodokan tiang - Monoon longifolium

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Subkelas : Magnoliidae

Ordo : Magnoliales

Famili : Annonaceae

Genus : Monoon

Spesies : Monoon longifolium atau Polyalthia longifolia


Deskripsi

Monoon longifolium adalah jenis tanaman yang akarnya dapat bertahan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh getaran kendaraan, pada cuaca panas tumbuh dapat tumbuh karena di tahan terhadap angin sehingga cocok digunakan sebagai tanaman peneduh jalan yang akan didapat menyerap unsur polutan seperti CO2, NO2, SO2 dan Partikulat Debu (PB) (Ardiyanto, 2014).

Tanaman glodokan tiang merupakan salah satu tanaman berkayu yang memiliki tajuk berbentuk kerucut. Tanaman glodokan tiang memiliki bentuk daun lanset memanjang dengan tepi daun bergelombang dan ujung runcing, permukaan atas dan bawah daun memiliki tekstur licin, daun berwarna hijau tua pada bagian atas dan hijau muda pada bagian bawah. Daun glodokan tiang memiliki ukuran panjang daun 15-23 cm, serta lebar daun yaitu 2,4 - 4,6 cm (Tambaru et al., 2011). 

Menurut Indriastuti (2017), Tanaman glodokan tiang memiliki bunga majemuk yang berbentuk segitiga runcing dengan warna kuning kehijauan. Buah P. longifolia memiliki bentuk lonjong dengan warna dari hijau tua hingga warna ungu kehitaman.


Fungsi 

Tanaman glodokan tiang pada awalnya merupakan tanaman yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Tanaman tersebut kemudian banyak ditanam sebagai tanaman peneduh jalan di Yogyakarta karena struktur akar dan batangnya kuat dan tanaman ini berpotensi sebagai pereduksi pencemar udara yang baik. Semua jenis tanaman termasuk tanaman glodokan tiang memiliki batas kemampuan untuk mereduksi zat pencemar yang ada di udara (Ahmad, 2014).


Habitat

Monoon longifolium merupakan tumbuhan evergreen yang berasal dari india. Singh berpendapat bahwa Glodokan tiang atau yang disebut ashok adalah tumbuhan asli india dan Srilanka. Namun, inama ashoka merupakan nama yang telah banyak dikenal di india utara, meskipun nama ashok tersebut berasal dari nama sita ashok. Di indonesia tanaman ini sudah banyak dibudidayakan sebagai salah satu tanaman yang banyak di dijumpai di jalan raya. Habitat dari tanaman ini terdapat di dataran rendah dengan tanah yang gembur, biasanya ditanam di ketinggian kurang dari 1200 mdpl (Heru, 2015). 


Referensi

Ahmad Solihin. (2014). Morfologi Daun, Kadar Klorofil dan Stomata Glodokan (Polyalthia longifolia) Pada Daerah Dengan Tingkat Paparan Emisi Kendaraan yang Berbeda di Yogyakarta. Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga: Yogyakarta

Ardiyanto, Rizqi Dwi, dkk. (2014). Kemampuan Tanaman Glodokan Polyalthia longifolia sonn sebagai Peneduh Jalan Dalam Mengakumulasi PB Udara Berdasarkan Respon Anatomis Daun di Purwokerto. scripta biologica, vol. 1 No.1

Heru Puji Raharjo, dkk. (2015). Pengaruh Tingkat Kepadatan Lalu Lintas dan Waktu Pengamatan yang Berbeda Terhadap Ukuran dan Jumlah Stomata Daun Glodokan (Polyalthia longifolia Sonn). Volume 4 No 1,

Indriastuti, M. (2017). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Glodokan Tiang (Polyalthia longifolia S.) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes. In Karya Tulis Ilmiah. SAMARINDA

Tambaru, E., Paembonan, S. A., Sanusi, D., & Umar, A. (2011). Karakter Morfologi dan Tipe Stomata Daun Beberapa Jenis Pohon Penghijauan Hutan Kota di Kota Makassar. Jurnal Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, 1(1), 15–27.   


Pinus cook - Araucaria columnaris

Pinus cook - Araucaria columnaris

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Coniferophyta

Kelas : Pinopsida

Ordo : Pinales

Famili : Araucariaceae

Genus : Araucaria

Spesies : Araucaria columnaris 


Deskripsi

Spesies yang termasuk dalam genus araucaria sebagian besar merupakan pohon dioecious meskipun pohon berumah satu juga dapat ditemukan. Selain itu, beberapa pohon bahkan dapat berganti jenis kelamin seiring berjalannya waktu. Spesies ini dicirikan dengan batang yang besar dan tegak. Tingginya bisa mencapai 80 m. Cabang-cabangnya berkumpul dalam lingkaran dan tumbuh secara horizontal. Mereka ditutupi dengan daun kasar atau daun jarum, tanpa percabangan di bagian bawah ketika mereka menjadi pohon dewasa. Pada beberapa spesies, daunnya sempit dan lanset, hampir tidak tumpang tindih satu sama lain, sementara di tempat lain mereka sangat luas, rata, dan sangat tumpang tindih satu sama lainnya. Araucaria menghasilkan dua organ reproduksi : jantan (serbuk sari) dan betina (biji). Organ reproduksi betina berbentuk bulat dan ukurannya bisa sangat bervariasi sesuai dengan spesiesnya. Mereka hanya ditemukan di bagian atas pohon dan mengandung banyak biji besar yang bisa dimakan. Sedangkan organ reproduksi jantan berukuran lebih kecil dan memiliki ukuran yang luas bentuk silinder (Simpson, 2010).


Habitat

Araucaria hanya tersebar luas di Belahan Bumi Selatan meskipun pada garis bujur yang berbeda. Faktanya, spesiesnya dapat ditemukan di New Guinea, Australia, tetapi juga di Chili, Argentina, Brasil, Kaledonia Baru, dan Pulau Norfolk. Selain itu, terdapat populasi alami A. columnaris (G. Forst.) Hook. di pulau Lanai di Hawaii. Keanekaragaman hayati terbesar dari genus ini ada di Kaledonia Baru. Mereka lebih menyukai tanah berkapur dan schistose ultrabasa (Zonneveld, 2012).


Referensi

Simpson, M.G. (2010). Plant Systematics; Academic Press: Cambridge, MA, USA.

Zonneveld, B.J.M. (2012). Genome sizes of all 19 Araucaria species are correlated with their geographical distribution. Plant Syst. Evol. 298, 1249–1255.


Palm Jepang - Pytchosperma macarthurii

Palm Jepang - Pytchosperma macarthurii

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Arecales

Famili : Arecaceae

Subfamili : Arecoideae

Genus : Pytchosperma

Spesies : Pytchosperma macarthurii


Deskripsi

Palm Jepang adalah pohon palem yang memiliki batang ramping dengan daun hijau cerah yang tumbuh memanjang. Tinggi tanaman ini bisa mencapai 3 hingga 5 meter, dengan daun yang tersusun majemuk dan menyirip. Daunnya memiliki panjang sekitar 1 hingga 1,5 meter, menjadikannya tanaman yang menarik secara visual. Batang dari palem ini tumbuh berkelompok, dengan beberapa batang muncul dari satu pangkal. Tanaman ini juga menghasilkan buah berwarna merah terang, yang menambah nilai estetika bagi tanaman hias (Jones, 2019).


Fungsi

Sebagai tanaman hias, Palm Jepang sering digunakan dalam lanskap taman, terutama di area tropis atau subtropis. Selain itu, tanaman ini juga bisa berfungsi sebagai penyaring udara alami. Banyak orang menempatkan tanaman ini di dalam rumah atau kantor untuk meningkatkan kualitas udara serta memberikan suasana tropis yang menenangkan. Selain itu, buahnya kadang dijadikan pakan burung liar, meskipun tidak lazim dikonsumsi oleh manusia (Brown & Clark, 2018).


Habitat

Palm Jepang berasal dari kawasan tropis dan subtropis, termasuk Papua Nugini dan Australia Utara. Spesies ini sering dijumpai sebagai tanaman hias di berbagai wilayah tropis dunia (Smith, 2020). Palm Jepang tumbuh baik di wilayah tropis dengan kelembaban tinggi. Tanaman ini umumnya ditemukan di area yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi, dan dapat tumbuh di ketinggian rendah hingga sedang. Palm Jepang menyukai area yang teduh hingga sinar matahari sedang, sehingga biasanya tumbuh di bawah naungan pohon yang lebih tinggi di habitat aslinya. Di Indonesia, tanaman ini sering ditemui di taman kota atau kebun rumah yang memiliki iklim serupa dengan habitat alaminya (Robinson, 2017).


Perawatan

Perawatan Palm Jepang relatif mudah, sehingga banyak orang yang memilihnya sebagai tanaman hias. Tanaman ini memerlukan penyiraman yang cukup, terutama di musim panas. Namun, penting untuk tidak memberikan air secara berlebihan karena bisa menyebabkan akar membusuk. Palm Jepang juga memerlukan pupuk secara berkala, terutama pupuk yang kaya akan nitrogen untuk mendorong pertumbuhan daun. Disarankan untuk menanam tanaman ini di tanah yang berdrainase baik, karena tanaman ini tidak toleran terhadap tanah yang terlalu lembab. Pemangkasan daun yang kering atau mati juga diperlukan untuk menjaga penampilan dan kesehatan tanaman (Green, 2021).


Referensi 

Brown, R., & Clark, J. (2018). Peran Tanaman Dalam Ruangan dalam Peningkatan Kualitas Udara. Jurnal Ilmu Lingkungan, 12(3), 45-58.

Green, L. (2021). Panduan Praktis Merawat Kelapa Sawit: Dari Kebun ke Dalam Ruangan. Buletin Bulanan Hortikultura, 5(6), 14-23.

Jones, M. (2019). Sawit di Daerah Tropis: Tinjauan Umum Spesies dan Karakteristiknya. Jurnal Botani Tropis, 9(2), 75-89.

Robinson, P. (2017). Habitat Tropis: Memahami Ekologi Arecaceae. Jurnal Ekologi Tropis, 15(4), 125-138.

Smith, T. (2020). Taksonomi dan Klasifikasi Palem Tropis. Botanical Research Quarterly, 17(1), 32-41.


Mengkuang Duri - Pandanus tectorius Parkinson ex Du Roi

Mengkuang Duri - Pandanus tectorius Parkinson ex Du Roi


Klasifikasi Ilmiah:
Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Pandanales
Famili : Pandanaceae
Subfamili : Pandanioideae
Genus : Pandanus
Spesies : Pandanus tectorius

Deskripsi 
Mengkuang duri (Pandanus tectorius) adalah salah satu jenis tumbuhan dari famili Pandanaceae yang sering dijumpai di berbagai kawasan tropis, termasuk Indonesia (Budi, 2019). Mengkuang duri memiliki ciri khas berupa daun panjang dan berduri di bagian tepi. Tumbuhan ini umumnya tumbuh dengan tinggi mencapai 4 hingga 14 meter. Daun mengkuang memiliki panjang sekitar 1,5 hingga 3 meter dengan lebar sekitar 5-8 cm, bergaris-garis pada permukaannya, dan sering digunakan sebagai bahan anyaman. Bunganya tumbuh dalam bentuk majemuk, sedangkan buahnya berbentuk menyerupai nanas kecil, dengan warna merah atau oranye ketika matang.

Fungsi 
Mengkuang duri banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir sebagai bahan baku untuk membuat berbagai produk anyaman seperti tikar, topi, tas, dan keranjang (Sutrisno & Wulandari, 2021). Selain itu, serat dari daun mengkuang juga kuat dan tahan lama, menjadikannya pilihan populer untuk kerajinan tangan tradisional. Di beberapa daerah, bagian dari tumbuhan ini juga digunakan dalam praktik pengobatan tradisional, meskipun pemanfaatan medisnya masih terbatas.

Habitat
Mengkuang duri tumbuh di wilayah tropis, terutama di pesisir pantai, rawa-rawa, dan daerah berpasir. Tumbuhan ini mampu bertahan di tanah yang asin dan berdrainase buruk, menjadikannya tanaman pionir yang dapat tumbuh di lingkungan yang kurang subur (Wijaya, 2020). Distribusi tumbuhan ini mencakup wilayah Asia Tenggara, Australia, hingga Kepulauan Pasifik.

Perawatan 
Tanaman mengkuang duri termasuk mudah dirawat karena tahan terhadap berbagai kondisi tanah dan cuaca. Untuk penanaman, bibit dapat ditanam langsung di tanah dengan jarak tanam sekitar 2-3 meter antar tanaman. Penyiraman perlu dilakukan secara teratur pada tahap awal pertumbuhan, namun setelah tumbuh dewasa, tumbuhan ini relatif toleran terhadap kekurangan air. Pemangkasan daun tua yang sudah kering dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan tanaman dan meningkatkan kualitas daun yang dihasilkan.

Referensi 
Budi, A. (2019). Tanaman Pesisir dan Pemanfaatannya. Jakarta: Gramedia.
Sutrisno, H., & Wulandari, N. (2021). Kerajinan Tangan dari Mengkuang: Sebuah Warisan Budaya Nusantara. Yogyakarta: Balai Pustaka.
Wijaya, R. (2020). Flora Pantai Tropis: Pandanus tectorius dan Spesies Lainnya. Surabaya: Universitas Airlangga Press.

Palem Ekor Tupai - Wodyetia bifurcata A.K. irvine

Palem Ekor Tupai - Wodyetia bifurcata A.K. irvine

 

Klasifikasi ilmiah

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Arecales

Famili : Arecaceae

Genus : Wodyetia

Spesies : Wodyetia bifurcata A.K. irvine


Deskripsi

Menurut Akbar, et. al. (2017), Wodyetia bifurcata adalah jenis palem yang terlangka dan kini populer menjadi tanaman hias. Tanaman ini memiliki sistem perakaran serabut di mana ukuran akarnya sama besar, sehingga tidak dapat dibedakan antara batang akar dengan cabang akar. Sistem percabangan monopodial dan batangnya ramping sehingga cocok dijadikan tanaman hias. Termasuk daun lengkap dengan tata letak daun di roset batang (Tjitrosoepomo, 1985). Adapun bunganya tidak lengkap disebabkan Wodyetia bifurcata menghasilkan bunga betina pada beda tangkai (Azmi Ulum, 2020).

Fungsi

Pada umumnya masyarakat Indonesia memanfaatkan palem sebagai sumber bahan penyegar, tanaman hias, hingga obat-obatan tradisional (Yohanes, 2005). Adapun sebagai tanaman hias, palem ini dikenal mampu menyerap polusi udara. Hal ini menjadikan palem banyak dimanfaatkan sebagai pekarangan rumah. Pada beberapa pebisnis agro juga menjual biji dan bibit, sehingga menambah fungsi ekonomis (Akbar et.al., 2017). 


Habitat

Secara alami, palem dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, mulai dari jenis tanah liat hingga berkerikil. Namun, tanah yang paling ideal adalah tanah yang gembur, berdrainase baik, pH 5,5-7,0, dan air tanah berada 50 cm-200 cm di atas permukaan tanah. Adapun kondisi lingkungan yang cocok adalah pada intensitas cahaya yang cukup terang dengan suhu udara 25°C-35°C serta kelembaban 50% (Rukmana, 2011).


Perawatan

Berdasarkan sebuah artikel dari laman Agrotani Sejahtera (27 Desember 2023), ditulis bahwa perawatan yang perlu diperhatikan ialah:

  1. Pastikan sinar matahari cukup dan terang. 
  2. Diberikan pupuk khusus palem dengan kandungan unsur hara yang cukup. 
  3. Tanah harus terjaga kelembapannya (tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering). 
  4. Pangkas daun yang rusak atau mati untuk menjaga tanaman sehat. 



Referensi

AgroTani. (27 Desember 2023). Palem Ekor Tupai (Wodyetia bifurcata): Keindahan Pohon Tropis dalam Tanaman Hias. Diakses dari:

https://agrotanisejahtera.co.id/2023/12/27/palem-ekor-tupai-wodyetia-bifurcata-keindahan-pohon-tropis-dalam-tanaman-hias/

Akbar, Dachlan, A., Riadi, M. (2017). Perkecambahan dan Pertumbuhan Benih Palem Ekor Tupai (Wodyetia bifurcate) Hasil Pematahan Dormansi dengan Air Panas dan Giberelin (GA3). J. Agrotan, 3(1) : 91- 101.

Rukmana, R. (2011). Budidaya dan Perawatan Palem Si Hijau nan Cantik. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka.

Tjitrosoepomo, G. (1985). Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press. 

Yohannes, Y.Y. (2005). Eksplorasi Jenis Palem di Pulau Mioswaar, Kabupaten Teluk Wondama, Irian Jaya Barat (Papua). (Skripsi Sarjana, Universitas Negeri Papua).

Jambu Air – Syzygium aqueum

Jambu Air – Syzygium aqueum

 



Klasifikasi ilmiah

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Rosidae

Famili : Myrtales

Genus : Syzygium

Spesies : Syzygium aqueum



Deskripsi

Syzygium aqueum biasa diseWiyatiniengan jambu air atau jambu air mawar. Syzygium aqueum memilki tinggi 3-10 meter, diameter batang berukuran 30-50 cm dengan bentuk yang pendek dan bengkok. Bentuk daun Syzygium aqueum elips hingga memanjang. Warna buah putih hingga merah dengan jumlah biji 1-2 setiap buahnya (Kuswandi, 2008).


Fungsi

Syzygium aqueum banyak dikonsumsi secara langsung tanpa diolah. Jambu air ini memiliki kandungan tannin di dalamnya. Tannin ini berfungsi sebagai antimikroba, antioksidan, dan antihemoragi. Selain itu, tannin dapat membersihkan dan menyegarkan mulut, sehingga dapat mencegah terjadinya kerusakan pada gigi dan gusi (Wiyatini, 2016).

Selain buah, batangnya yang keras dapat diolah menjadi bahan konstruksi dan kerajinan. Air rebusannya dipercaya sebagai adstringent di Hawai (Janick J et.al., 2008). Serat yang terkandung di dalam Syzygium aqueum dapat dikonsumsi orang yang sedang diet disebabkan sifat mengenyangkannya (Sasono, 2014).


Habitat

Syzygium aqueum dapat hidup di daerah tropis, beriklim panas, maupun basah dan lembab dengan curah hujan tahunan. Pada dataran rendah sekitar 1.200 meter dpl Syzygium aqueum masih dapat hidup. Walaupun dapat hidup di lingkungan iklim kemarau, tanaman ini perlu mendapatkan pasokan air dan cahaya matahari yang cukup untuk dapat bertahan hidup (Lim TK, 2012).


Perawatan

Diambil dari suatu artikel pada laman Lindungi Hutan (2022), Syzygium aqueum dapat tumbuh 5-500 meter dpl. Dibutuhkan cahaya matahari sebesar 40%-50% per harinya. Suhu yang baik adalah 10-20°C dengan tingkat kelembapan 50%-80%.

Perawatan yang dapat diberikan adalah dengan:

  • Menyiramnya 1-2 kali sehari. 
  • Pertumbuhan gulma diimbangu dengan proses penyiangan. 
  • Pemangkasan cabang agar pohon berbuah lebih banyak. 
  • Jika cuaca cerah, andam/sungkup/mulsa dapat dibuka agar tanaman dapat beradaptasi dengan lingkungannya.


Referensi

Ekoningtyas, E. A., Wiyatini, T., dan Nisa, F. (2016). Potensi Kandungan Kimiawi Dari Ubi Jalar Ungu (Ipomea Batatas L) Sebagai Bahan Identifikasi Keberadaan Plak Pada Permukaaan Gigi. Jurnal Kesehatan Gigi, 3(1). 

Janick J, Paull, Robert E . (2008). The Encyclopedia of Fruit and Nuts. Wallingford, United Kingdom: CABI publishing. 

Kuswandi. (2008). Petunjuk Teknis Produksi Benih Jambu Air Secara Klonal. Solok: Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.

Lim TK. (2012). Edible Medicinal And Non Medicinal Plants : Syzygium Aqueum. London: Springer Dordrecht Heidelberg New York. Volume 3 Fruits

Lindungi Hutan. (19 Juni 2022). Pohon Jambu Air: Jenis, Ciri-Ciri, Manfaat, dan Pembudidayaan. Diakses dari https://lindungihutan.com/blog/pohon-jambu-air/#Budidaya_Jambu_Air

Sasono H. (2014). Mudah Membuahkan 38 Jenis Tabulampot Paling Popular. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka. 


Loa – Ficus racemosa

Loa – Ficus racemosa

 


Klasifikasi Tumbuhan

Berikut merupakan daftar tingkat taksonomi dari tumbuhan Loa atau Ara menurut (Shikhsarthi et al., 2011):

Kingdom : Plantae 

Subkingdom : Tracheobionata 

Superdivisi : Spermathophyta 

Divisi : Magnoliophyta 

Kelas : Magnoliopsida 

Subkelas : Hamamelididae 

Ordo : Urticales 

FamilI : Moraceae 

Genus : Ficus

Spesies : Ficus racemosa Linn atau Ficus glomerata Roxb


Deskripsi Tumbuhan

 Tumbuhan Loa atau Ara (Ficus racemosa) merupakan salah satu kelompok tumbuhan dari genus Ficus, di mana tumbuhan ini memiliki keanekaragaman yang tinggi di Indonesia. Umumnya, tumbuhan Ficus adalah tumbuhan yang berkayu berjenis pohon, perdu, pohon kecil pancekik, merambat, liana, dan akar liar (Susilowati et al., 2022).

 Ficus racemosa merupakan tumbuhan dengan habitus berupa pohon tinggi yang dapat mencapai 11-30 meter, dengan bentuk tajuk pohon tidak beraturan (irregular) dengan perakaran pohon adalah tunggang berbentuk banir. Batang pohon ini adalah berkayu, berbentuk bulay, permukaan batang yang terlihat seperti adanya keretakan (coriaceus), dan arah tumbuh batang yang tegak lurus, serta batangnya mengandung getah (Indriyanto, 2015). Loa atau Ara memiliki daun tunggal yang tidak lengkap (tangkai dan helaian), bentuk daun jorong (ovalus), pangkal daun tumpul (integrer), dan ujung yang runcing (acutus). Buah tumbuhan ini merupakan buah semu maejmuk yang berkembang dari dasar bunga yang banyak. Buahnya bergerombol pada batang pohon, berukuran kecil, berjumlah banyak, dan berwarna merah muda (Aji et al., 2022).


Fungsi Tumbuhan

 Tumbuhan Loa atau Ara memiliki fungsi utama pada bidang ekologi dan farmakologi. Habitus dari Loa atau Ara yang yang besar dan tinggi dapat dijadikan sebagai tempat untuk melindungi beberapa jenis satwa yang menempati pohon tersebut (Zaharah et al., 2022). Daun yang tumbuh sangat rimbun menjadikan pohon ini memiliki potensi sebagai tumbuhan penghijauan karena mampu menghasilkan oksigen dan menyerap karbondioksida dalam jumlah yang banyak. Selain itu sistem perakaran yang besar dan kuat, pohon ini mampu menyimpan air tanah dan mencegah erosi tanah terjadi (Aji et al., 2022).

 Dalam bidang farmakologi, tanaman ini mampu menghasilkan berbagai senyawa metabolit sekunder yang sudah terbukti dalam berbagai penelitian, bahwa senyawa tersebut dapat menjadi anti-oksidan dan radio-protectif yang baik. Selain itu, kulit batang pohon ini mengandung sifat astringen dan terdapat senyawa vlavanoid, alkaloid, glikosida jantung, tanin, dan karbohidrat (Anh et al., 2020).


Habitat Tumbuhan

 Tumbuhan Ficus racemosa banyak tumbuh di wilayah hutan dataran rendah, hutan tepi sungai, hutan pegunungan, dan hutan bebatuan. Tumbuhan ini tumbuh dengan baik di kawasan tropis. Tumbuhan ini berasal dari daerah India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Nepal, yang kemudian tersebar ke kawasan-kawasan hutan di wilayah tropis. Pohon ini menyukai iklim yang lembab dan tumbuh subur di tanah yang lembab. Pohon ini sering ditemukan tumbuh di dekat sungai dan aliran air (Thoyyibah & H. Angio, 2023).


Referensi

Aji T, Qudratullah MF, Gunawan WI. 2022. Ficus sp. Lokal untuk konservasi air pada Kawasan Wisata Merapi di Desa Wisata Jaka Garong, Wonokerto, Turi, Sleman. Jurnal Bakti Saintek: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknologi 6 (2): 59-65. DOI: 10.14421/jbs.3973. [Indonesian]

Anh HT, Vu NSH, Huyen LT, Tran NQ, Thu HT, Bach LX, Trinh QT, Vattikuti SVP, Nam ND. 2020. Ficus racemosa leaf extract for inhibiting steel corrosion in a hydrochloric acid medium. Alexandria Eng J 59 (6): 4449-4462. DOI: 10.1016/j.aej.2020.07.051.

Indriyanto MP. 2015. Dendrologi: Teori dan Praktik Menyidik Pohon. Penerbit Lembaga Penelitian Universitas Lampung, Lampung. [Indonesian]

Shikhsarthi, M., Prasad, D. N., & Kumar, A. (2011). Pharmacognostical and phytochemical evaluation of Ficus racemosa Linn. Journal of Pharmacy Research, 4(8), 2581-2583

Susilowati A, Rangkuti AB, Rachmat HH, Dwiyanti FG, Harahap MM, Iswanto AH, Zaitunah A, Samsuri, Ginting IM. 2022. Diversity and distribution of fig (Ficus spp) in University of Sumatera Utara (USU) green space. IOP Conf Ser: Earth Environ Sci 959 (1): 012017. DOI: 10.1088/1755-1315/959/1/012017.

Thoyyibah A & H. Angio M. 2023. Inventerisasi dan Karakterisasi Morfologi Ficus racemosa Koleksi Kebun Raya Purwodadi serta Potensi Pemanfaatannya di Mayarakat. Pros Seminar Hasil Masy Biodiv Indon, Vol. 9, No. 1, h 91-96.

Zaharah P, Noriko N, Pambudi A. 2016. Analisis vegetasi Ficus racemosa L. di bantaran Sungai Ciliwung wilayah Pangadegan Jakarta Selatan. Bioma 12 (2): 74-82. DOI: 10.21009/Bioma12(2).2. [Indonesian]


Nangka – Artocarpus heterophyllus lam.

Nangka – Artocarpus heterophyllus lam.

 


Klasifikasi Ilmiah

Berikut merupakan daftar kedudukan taksonomi dari tumbuhan Nangka menurut (Rukmana, 1997):

Kingdom : Plantae 

Divisi : Spermatophyta 

Sub-divisi : Angiospermae 

Kelas : Dicotyledonae 

Ordo : Morales 

Famili : Moraceae 

Genus : Artocarpus 

Spesies : Artocarpus heterophyllus Lamk.


Deskripsi Tumbuhan

 Tumbuhan nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) merupakan salah satu tumbuhan buah tropis karena dapat ditanaman dan tumbuh di kawasan tropis dengan ketinggian kurang dari 1.000 meter di atas permukaan air laut dan tumbuhan ini berasal dari wilayah India Selatan. Nangka termasuk ke dalam famili Moracea, yang di mana famili Moracea ini memiliki jumlah spesies berkisar antara 1.000 – 1.100 yang hampir sebagian besar spesies terpusat di kawasan tropis dan sub-tropis (Rahman et al, 2013).

 Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) memiliki karakter morfologi yaitu tumbuhan berupa pohon dengan tinggi 10 – 30 meter, memiliki getah putih pada bagian kulit batangnya, rantingnya tidak memiliki daun saat masih muda. Batang nangka dewasa memiliki diameter yang cukup besar yaitu 80 cm, batang berjenis kayu, tegak, berbentuk bulat, dan memiliki permukaan yang kasar. Nangka memiliki daun penumpu yang membungkus tunas daun muda, dengan panjang daun antara 1 – 5 cm, panjang tangkai daun sampai 3 cm, dengan helaian (Lamina) daun bercuping tiga saat daun masih muda dan bentuknya jorong. Buah nangka termasuk buah sejati yang membungkus biji pada setiap daging buahnya, buah yang sudah matang memiliki ukuran panjang dan lebar sekitar 25 – 50 cm, dengan bentuk yang bervariasi seperti jorong, lonjong, atau seperti buah pir dengan kulit buahnya (Exocarp) yang termodifikasi menjadi runcing seperti duri berbentuk kerucut (Silalahi dan Mustaqim, 2020).


Fungsi Tumbuhan

 Tumbuhan nangka memiliki banyak fungsi, di mana fungsi utamanya adalah sudah jelas sebagai penghasil makanan berupa buah. Kayu dari batang nangka dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku perabotan dan barang lain karena kokoh dan tahap dari rayap serta jamur. Daun nangka memiliki fungsi sebagai senyawa antioksidan yang baik karena mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan tanin. Buah nangka sudah pasti berfungsi sebagai bahan makanan baik dimasak kembali ataupun langsung dikonsumsi (Rosandy, F. T, 2015).


Habitat

 Nangka (Artocarpus heterphyllus Lamk.) merupakan tumbuhan berjenis pohon besar yang bukan tumbuhan endemik asli Indonesia, melainkan berasal dari kawasan India tepatnya di India Selatan. Tumbuhan ini kemudian menyebar di kawasan tropis yang memiliki curah hujan cukup tinggi dengan nilai curah hujan tahunan rata-rata sebesar 1.500 – 2.500 mm/tahun. Pohon nangka dapat tumbuh dengan sangat optimal pada ketinggia 0-800 mdpl. Tumbuhan genus Artocarpus termasuk nangka memiliki habitat penyebaran dengan keanekaragaman yang terpusat di kawan Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, pulau Kalimantan menjadi pusat dari diversifikasi genus Artocarpus (William et al, 2017).

Tumbuhan nangka sendiri umumnya dapat tumbuh pada daerah yang memiliki bulan kering lebih dari 4 bulan, dengan tumbuh pada berbagai tipe tanah seperti aluvial dan tanah liat berpasir dengan irigasi baik. Pohon nangka akan tumbuh dengan sangat optimal pada tanah yang gembur dan vukup berpasir dengan pH tanah optimum sebesar 6 – 7 (Harry, N. R, 1994).


Perawatan

 Pada dasarnya, pohon nangka merupakan jenis pohon yang cukup tangguh. Pohon nangka tidak terlalu membutuhkan perawatan ekstra dalam pertumbuhannya, karena memang pohon ini dapat tumbuh dan berkembang di berbagai kondisi lingkungan dan tanah. Pohon nangka juga tahan akan berbagai hama dan penyakit, hal itu menjadi alasan tambahan bahwa pohon nangka tidak terlalu memerlukan perawatan ekstra.

 Apabila ingin memberikan perawatan ekstra terhadap pohon nangka, berikut cara perawatannya:

  1. Penyiraman dapat dilakukan sebanyak 3-4 hari sekali.
  2. Penyiangan dilakukan sebanyak 2-4 bulan selama 2-3 tahun.
  3. Pupuk diberikan dengan menggunakan pupuk kandang atau kompos sebanyak 20 kg per tanaman dan dilakukan sebanyak 1-2 kali setahun.
  4. Mulsa dapat diberikan pada saat musim kemarau setiap 2 kali per tahun untuk meningkatkan kelembapan tanah (Wanajih, 2023).


Referensi

Harry, N.R. 1994. Nangka. Dalam Lembaran Informasi Prosea no.7. PROSEA Indonesia. Bogor : Yayasan PROSEA, hal : 41-42.

Rahman A.H.M.M. & Khanom, A. (2013). A taxonomic and ethno-medicinal study of species from Moraceae (Mulberry) family in Bangladesh flora. Research in Plant Sciences 1(3): 53-57.

Rosandy, F. T. (2015). Pengaruh pemberian ekstrak kulit batang nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) terhadap lama hidup mencit (Mus musculus) yang diinfeksi Toxoplasma gondii. Universitas Airlangga. 

Rukmana, R. 1997. Budidaya Nangka. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Silalahi, M. & Mustaqim, W.A. (2020). Tumbuhan berbiji di Jakarta jilid 1: 100 jenis-jenis pohon terpilih. UKI Press, Jakarta.

Wanajih Mas. (2023). Mengenal Pohon Nangka dan Segudang Manfaatnya (2022). Magang Alam LindungiHutan. Di akses pada 07/09/2024 pukul 10:07 WIB. https://lindungihutan.com/blog/pohon-nangka-dan-segudang-manfaat-buahnya/

Williams, E.W., Gardner, E.M., Harris, R., Chaveerach, A., Pereira, J.T. & Zerega, N.J.C. (2017). Out of Borneo: biogeography, phylogeny and divergence date estimates of Artocarpus (Moraceae). Annals of Botany 119: 611– 62.


Kamboja Bali (Plumeria rubra L)

Kamboja Bali (Plumeria rubra L)

 


I.Klasifikasi Ilmiah

Kingdom Plantae

Divisi Spermatophyta

kelas Dicotyledonae

Ordo Apocynales

Famili Apocyanaceae

Genus plumeria

Spesies plumeria rubra .L


II.Deskripsi singkat

 kamboja mempunyai pohon dengan tinggi batang 1,5-6 m, bengkok, dan mengandung getah. Tumbuhan asal Amerika ini biasanya ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan, taman, dan umumnya di daerah pekuburan, atau tumbuh secara liar. Tumbuh di daerah dataran rendah 1-700 m di atas permukaan laut,. Rantingnya besar, daun berkelompok rapat pada ujung ranting, bertangkai panjang, memanjang berbentuk lanset, panjang daun 20-40 cm, lebar 6-12,5 cm, ujung meruncing


III.Habitat

  Pohon kamboja bali tumbuh subur di daratan rendah, Bunga kamboja memiliki beberapa warna dan dapat disilangkan merah muda, orange, merah, dan merah tua. Berdasarkan sumber ilmiah, hingga tahun 2004, terdapat lebih dari 600 kultivar kamboja yang telah didaftarkan dari seluruh dunia dan meningkat dari tahun ke tahun. Diperkirakan terdapat lebih dari 15.000 kultivar kamboja di seluruh dunia

IV.Manfaat 

Kamboja bali Sering sekali dijadikan sebagai obat bahan kecantikan, Menjaga kebersihan kulit serta Meningkatkan Kolagen dan Mencegah Penuaan Dini

Kolagen adalah serat protein tak larut yang sangat dibutuhkan tubuh. Zat ini berfungsi penting dalam memperkuat jaringan kulit, tulang, gigi, sendi, ligament, urat, dan pembuluh darah.


Daftar Pustaka

indah, G ., (2023). Khasiat kamboja bali untuk kesehatan, e-journal undip