Review Materi Eco-Enzyme dan Praktik Hasil Akhir Eco-Enzyme

Review Materi Eco-Enzyme dan Praktik Hasil Akhir Eco-Enzyme


Foto bersama Closing BUN 2021 (dok. Farah)

        Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.. Haloo sobat BUN, bagaimana kabarnya hari ini? Semoga dalam keadaan sehat dan terus diberikan kesehatan, aamiin.. Senang bertemu kembali dengan sobat BUN, tetap jaga kesehatan ya, ingat protokol kesehatan 3M (menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak). Jangan lupa juga untuk vaksin ya.. agar pandemi covid-19 ini cepat selesai.


        Baca JugaBelajar Eco-Enzyme dan Cuci Tangan Bersama BUN


        Pada hari Minggu tanggal 26 September 2021, merupakan acara closing BUN 2021 nih.. sobat BUN. Tak terasa sudah saatnya perpisahan. Etss.. jangan sedih dulu, saya mau menceritakan dulu nih tentang kegiatan terakhir BUN dengan mengundang Kak Alif  selaku ketua HIMBIO Oryza Sativa dan dosen-dosen program studi biologi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penasaran ngga nih, sobat BUN? Dibaca sampai habis yaa.. artikelnya. Tanpa berlama-lama lagi, yuk kita langsung ke pembahasan kali ini!

        Kegiatan kali ini dimulai pada jam 09.50 WIB dengan pembukaan acara BUN oleh MC, Kak Rana. Pembukaan ini untuk melakukan tepuk doa dan berdoa bersama sebelum memulai kegiatan agar diberikan kelancaran dan sebagai rasa syukur kepada-Nya karena dipertemukan kembali pada kegiatan BUN.


Pembukaan Closing BUN (dok. Farah)

        Dilanjutkan dengan pemaparan materi Eco-enzyme secara umum dan proses pengencerannya oleh Kak Basyuri. Nah, sobat BUN saya jelasin lagi tentang Eco-enzyme yaa.. Eco-enzyme adalah larutan organik yang dihasilkan dengan fermentasi sederhana dari limbah sayuran segar, limbah buah dengan penambahan gula merah dan air dengan menggunakan mikroorganisme selektif seperti Ragi dan Bakteri (Thirumurugan dan Mathivanan, 2016).

        Sobat BUN, limbah sayuran dan buah termasuk sampah golongan apa? Betuul.. termasuk sampah organik, lebih jelasnya sampah terbagi dua berdasarkan tipe zat sampah, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik merupakan sampah yang mudah membusuk dan ramah lingkungan untuk kelestarian lingkungan, seperti: limbah sayur dan buah. Sedangkan, sampah anorganik merupakan kebalikan dari sampah organik yang mudah membusuk, seperti: limbah plastik (botol air mineral). Nah, pembuatan Eco-Enzyme tidak hanya memanfaatkan sampah organik saja. Namun, juga memanfaatkan sampah anorganik untuk menjadi wadah fermentasi Eco-Enzyme.

         Sobat BUN, tau ngga nih fungsi dari penambahan gula pada pembuatan Eco-Enzyme? Fungsinya itu menjadi nutrisi untuk mikroorganisme selektif seperti Ragi dan Bakteri. Fermentasi Eco-Enzyme ini dilakukan selama 3 bulan lamanya, agar limbah sayuran dan buah terurai secara sempurna menghasilkan hasil yang maksimal.

    Setelah mendapatkan hasil Eco-Enzyme, selanjutnya proses pengenceran. Proses pengenceran dilakukan karena hasil Eco-Enzyme masih bersifat larutan pekat yang sebelum digunakan sebaiknya ditambahkan pelarut berupa air. Namun, pastikan Eco-Enzyme berbau asam berwarna coklat, menimbulkan gas dan memiliki pH dibawah 4.  Eco-Enzyme yang dibuat bisa digunakan sebagai cairan pembersih lantai kamar mandi, desinfektan, pengusir hama, dan pupuk cair tanaman. Dengan ini, kegiatan BUN berharap adik-adik KBA dapat memanfaatkan limbah organik rumah tangga menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.dan dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan.


        Baca JugaPraktik Membuat Eco-Enzyme


 
Pemaparan materi Eco-Enzyme (dok. Farah)

        Setelah pemaparan materi, kegiatan selanjutnya praktik sobat BUN. Praktik apa yaa.. penasaran ngga? Nahh.. praktik yang kita lakukan adalah praktik tentang memasukkan hasil pengenceran ke botol dan penempelan stiker Eco-Enzyme lambang HIMBIO Oryza sativa, DIKBANG dan KBA yang dipimpin dan dipandu oleh Kak Basyuri, Kak Amel Dan Kak Ayu. Di saat praktik ini, senang sekali rasanya melihat adik-adik KBA sangat antusias dan serius memperhatikan proses pengenceran sobat BUN. Adik-adik KBA juga ikut memasukkan hasil pengenceran ke dalam botol kecil dan menempelkan stiker pada botol tersebut.


        Baca JugaMengenal Primata dan Perannya dalam Lingkungan Hidup


 

Praktik Proses Pengenceran Eco-Enzyme (dok. Farah)

        Pemaparan materi sudah, praktik juga sudah. Lalu selanjutnya apa nih, sobat BUN? Yap, betuul nih. Selanjutnya ada sambutan penutupan acara oleh Kak Basyuri selaku ketua pelaksana BUN 2021, sambutan penutupan acara oleh Kak Alif selaku ketua HIMBIO Oryza Sativa, sambutan penutupan acara oleh Kak Windi selaku ketua Komunitas Belajar Anak (KBA), dan terakhir sambutan penutupan acara oleh Dosen Program Studi Biologi UIN Syarif Hidayatullah. Sambutan penutupan acara ini menandakan kegiatan BUN 2021 telah selesai. Sebagai kenang-kenangan karena kegiatan BUN 2021 telah usai panitia BUN 2021 dan Dosen Program Studi Biologi UIN Syarif Hidayatullah penyerahan kenang-kenangan berupa rak buku kepada pihak KBA.


        Baca JugaPraktik Menanam Menggunakan Botol Bekas hingga Belajar Fotosintesis


 
Sambutan dan penyerahan kenang-kenangan (dok. Farah)

        Berakhirlah kegiatan BUN 2021, semoga dapat menambah ilmu sobat BUN dari kegiatan-kegiatan BUN 2021 ini dan kita dipertemukan kembali di tahun berikutnya.. Aamiin.. Ingat! 3M (mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak), Tetap semangat menjalankan aktivitasnya. Mohon maaf apabila saya terdapat salah-salah kata, sesungguhnya kesempurnaan hanya milik-Nya.


Referensi:

Harahap, R. G., Nurmawati, dkk. (2021). Pelatihan Pembuatan Eco-Enzyme sebagai Alternatif Desinfektan Alami di Masa Pandemi Covid-19 bagi Warga Km.15 Kelurahan Karang Joang. Jurnal Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(1), 67-73.


Fauziah, M., Rahmah, Y. F. (Tanpa tahun). Pengolahan Sampah Organik sebagai Upaya Peningkatan Produksi Pertanian dan Perikanan di Desa Karyamukti Kecamatan Pataruman Kabupaten Banjar Provinsi Jawa Barat. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati.

 

                                                                        Penulis:

Salsabila Ratna Wulandari

Praktik Menanam Menggunakan Botol Bekas hingga Belajar Fotosintesis

Praktik Menanam Menggunakan Botol Bekas hingga Belajar Fotosintesis


Potret hasil kegiatan BUN (dok. Syifa)

       Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.... Halooo semua, senang bertemu kembali dengan kalian Sobat BUN, maaf belakangan ini jarang memposting kegiatan dan keseruan mengajar kami di KBA karena PPKM level 4 mengharuskan kami mematuhinya. Pasti kalian sangat penasaran kan tentang keseruan kami mengajar kemarin??? ehehe, jujur itu lebih baik loh walaupun terkadang menyakitkan.. Upss. :D Namun Sobat BUN jangan bersedih, kami telah menggabungkan materi yang sebelumnya tidak dilaksanakan karena PPKM menjadi sebuah materi yang sangat spesial di hari Minggu, 5 September 2021. Penasaran kan?? Ikuti dan simak ceritanyaa, cekidot!


        Baca Juga: Mengenal Primata dan Perannya dalam Lingkungan Hidup


Pada hari Minggu, 5 September 2021 kami sangat senang karena telah diizinkan kembali bertemu generasi-generasi penerus bangsa yaitu anak-anak yang belajar di KBA. Atas izin-Nya kami telah mengajar kembali walaupun keterbatasan di tengah pandemi seperti menjaga jarak, memakai masker, dan terpaksa mengurangi jumlah anak-anaknya, yang awalnya kami mengajar sebanyak 23 anak menjadi 15 anak, namun itu tidak menurunkan semangat kami, karena kami percaya anak-anak di KBA akan meneruskan langkah kami untuk tetap mensyiarkan pentingnya menjaga lingkungan. Udah kayak Mba Najwa Shihab belum ni?? Eheheh.
Kegiatan kami sangat spesial karena tiga materi dilaksanakan dalam pertemuan hanya 120 menit. Kebayangkan keseruannya dan manfaatnya?? Yuk kami akan ceritakan semuanyaaa. Pada jam 09.00 WIB para panitia BUN dan kakak-kakak KBA telah datang di tempat mengajar KBA, lalu kami membersihkan dan menyiapkan ruangan belajar serta bekerja sama mengecat botol bekas dengan warna dasar yaitu putih yang telah dibagi dua bagian untuk wadah penanaman. Setelah kami mengecat botol bekasnya. Kami memulai pengajaran kepada anak-anak. Namun sebelumnya kami tidak lupa untuk mengecek suhu, memastikan anak-anak memakai masker, dan mencuci tangan untuk menghindari pandemi COVID-19 ini.

 
Pembukaan kegiatan BUN (dok. Syifa)

    Pengajaran dimulai dengan memperkenalkan serta mengingatkan kembali kami berasal dari mana, karena sudah hampir dua bulan tidak mengajar sebab PPKM. Huhuhu sedihhhh. Tapi alhamdulillah, anak-anak masih inget kami dan sangat antusias memerhatikan kami dari awal hingga akhir. Tepuk do’a dan tepuk fokus tidak lupa kami terapkan agar pembelajaran menjadi berkah dan fokus dalam mengikutinya serta mempraktekkannya. Apa si kak yang spesial dari pengajaran ini?? Di atas sudah ada clue nya sobat BUN eheheh, yaitu mengecat botol bekas sebagai wadah penanaman. Yapp benar sekali tebakan sobat BUN, materi kami seputar menanam, dari teori hingga praktiknya kami ajarkan, dari menggunakan limbah plastik seperti botol bekas sampai memanfaatkannya sebagai kreasi anak-anak yaitu menghias botol bekas tersebut. Waaahh, ternyata itu ya kak materi spesialnya?? Eitss, bukan hanya itu, tentunya dengan me-review kembali materi spesial ini melalui rangkaian games yang amat sangaat seruuu. Semoga sobat BUN masiih semangaat yap membacanya, ehehe.


        Baca Juga: Praktik Membuat Eco-Enzyme


Me-review materi sampah (dok. Syifa)

    Kami menggunakan botol bekas sebagai wadah penanaman. Namun, kami tetap me-review kembali botol bekas tersebut itu termasuk sampai organik atau non organik? Yapp benar sampah non organik. ehehe. Kenapa harus menggunakan botol bekas? Dan bagaimana cara menggunakannya? Kami menjelaskan itu semua kepada anak-anak di KBA dan mereka sangat antusias dalam mendengarnya bahkan ada yang bertanya perihal materi tersebut. Setelah menjelaskan kenapa menggunakan botol bekas sebagai wadah penanaman, kami juga menjelaskan kenapa harus menanam?? ehehe sampah non organik yang kita tahu semua sulit terurai ya sobat BUN, maka dari itu kami harus menggunakannya kembali sobat BUN.


Proses menghias botol bekas (dok. Syifa)

    Menghias botol bekas dibagi menjadi tiga kelompok dari 15 anak. Mereka menghias sesuai keinginan dan kreativitas anak-anak menggunakan kuas dan cat yang telah disediakan oleh panitia BUN. Ada yang menggambar bunga, upin-ipin, abtrak, inisial nama, bahkan ada yang menggambar laut loh sobat BUN, sungguh sangat kreatif anak-anak seusia mereka. Anak-anak yang bingung mau menggambar apa, maka kakak pendamping mencarikannya melalui mbah google :D tidak lupa ada kakak pendamping loh sobat BUN agar anak-anak tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.


Penyampaian materi fotosintesis (dok.Syifa)

    Setelah menghias botol bekas sebagai pengganti pot, pastinya botol tersebut digunakan untuk menanam dan botolnya dikeringkan dibawah sinar matahari, tapi kita tidak merenung saja menunggu botol tersebut kering, karena menunggu itu membosankan loh sobat BUN ehehe, untuk menghilangkan kebosanan tersebut, kemudian penyampaian materi fotosintesis oleh Kak Nadin, Kak Fathnun, dan Kak Metalinda bahwa fotosintesis itu berasal dari kita menanam pohon. Jika kita menanam pohon maka akan menghasilkan fotosintesis dan hasil fotosintesis tersebut berupa oksigen untuk manusia bernafas. Anak-anak KBA baru tahu akan hal itu dan semakin semangat serta antusias untuk menanam pohonnya. Walaupun proses fotosintesis sangat sulit dipahami, tapi kami kemas dengan bahasa sederhana loh sobat BUN seperti gambar di atas ada berbagai gambar prosesnya seperti melalui daun dan semacamnya. Setelah menjelaskan materi fotosintesis, lalu dijelaskan juga kenapa harus menanam pohon? Anak-anak KBA sudah sangat paham kenapa harus menanam pohon salah satunya untuk menghasilkan oksigen, namun ketika ditanya “adik-adik sudah pernah belum secara langsung menanam pohon?” mereka kompak menjawab belum, syukurlah kami merencanakan menanam pohon bersama. Maka, anak-anak KBA menjadi tahu dan paham karena langsung dipraktikkan.


        Baca Juga: Praktik Menanam Kangkung dengan Wick System


Menuang tanah ke dalam pot (dok. Syifa)

    Materi telah usai, selanjutnya anak-anak dikumpulkan kembali dengan kelompoknya masing-masing untuk menanam pohon, tapi sebelum menanam pohon, adik-adik belajar menuang tanah dan meratakannya agar pohon yang ditanam mendapatkan secara rata nutrisinya untuk pertumbuhan pohon tesebut. Tanah yang digunakan adalah tanah humus ya Sobat BUN. Tanah humus itu adalah tanah yang paling subur karena terdiri dari penggabungan pelapukan daun, batang pohon, dan ada pencampuran dari kotoran hewan. Tanah tersebut belum basah melainkan masih agak kering. Septi (adik KBA - tingkat SD) bertanya, “Ka, abis di tuang tanahnya, aku basahin yaa?”. Maka salah satu kakak BUN menjawab “Jangan dulu sep, nanti aja dibasahinnya ketika sudah ditanam pohonnya agar akar pohon tersebut dapat menyerap air yang baru disiram untuk pertumbuhan pohon tersebut".


Menanam pohon (dok. Syifa)

    Pohon cabai dan tomat kami tanam di pot yang baru saja dimasukkan tanah. Kakak pendamping mengajarkan bagaimana cara memindahkan pohon tersebut yaitu dengan cara menggali pohon tersebut dengan pelan-pelan dan mengambil akarnya. Jikalau akarnya sulit dicabut, maka cabutlah sama tanahnya agar akar tersebut tidak ada yang copot. Lalu anak-anak mempratikkannya dengan hati-hati. Refi salah satu anak-anak KBA mempraktikkannya. Namun akarnya terpotong, beruntungnya kami membawa pohon cadangan untuk antisipasi hal tersebut. Pohon cabai dan tomat kami pilih karena merupakan tanaman yang sering digunakan oleh orang tua mereka untuk memasak.

 

Games review materi (dok. Syifa)

    Games review mengakhiri kegiatan kami. Games memberikan penghapus papan tulis kepada teman yang berada disampingnya sambil diputarkan lagu. Ketika lagunya berhenti maka anak tersebut diberikan soal seputar materi dan praktik yang telah diberikan. Anak-anak menjadi sangat senang dan diselimuti dengan ketegangan karena yang mendapatkan penghapus ketika lagu berhenti, maka ialah yang terkena review. Namunn, dibalik semua itu, kami menyediakan hadiah supaya anak-anak lebih semangat dalam menjawabnya.

 

Foto bersama (Dok. Syifa)

    Foto bersama adalah kegiatan terakhir kami dengan membawa hasil kreasi menghias pot dan menanam pohon yang telah diberikan. Bagaimana Sobat BUN?? Sangat kompleks dan padat kan kegiatan BUN kali ini?? Tapiii, semuanya kami kemas dengan sederhana Sobat BUN melalui games review dan praktiknya karena ilmu yang dipraktikkan maka akan cepat diserap. Harapannya agar anak-anak dapat memanfaatkan limbah non organik seperti botol bekas untuk pot dan menanam pohon di pot tersebut. Supaya ketika panen atau tumbuh besar pohon tersebut, anak-anak bisa mengonsumsinya dan juga bisa menjualnya untuk mendapatkan tambahan uang saku mereka. Sekian cerita kami, sampai jumpa di artikel selanjutnya Sobat BUN, tetap melaksanakan lima prokes ya Sobat BUN, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas, menjauhi kerumunan, dan  memakai masker.


Penulis:

Ade Basyuri

Mengenal Primata dan Perannya dalam Lingkungan Hidup

Mengenal Primata dan Perannya dalam Lingkungan Hidup


Potret hasil kegiatan BUN 2021 (dok. Farah)

Halooo Sobat BUN, masih penasaran ngga nih dengan kelanjutan kegiatan BUN belajar dan bermain bersama adik-adik KBA. Yuuk.. simak sampai habis. Sebelum bahas yang lain, mau tanya dulu nih, kabar Sobat BUN gimana? semoga dalam kaadaan sehat yaa, jangan lupa untuk jaga kesehatan dan patuhi protokol kesehatan dengan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak) yaaa sobat BUN! Minggu lalu kita udah belajar mengenai “Apa itu Eco-Enzyme? dan Praktik Mencuci Tangan dengan Benar” dan “Praktik Membuat Eco-Enzyme” dibaca juga artikelnya yaaa.. Sobat BUN. Tanpa berlama-lama lagi, kita langsung kepembahasan kali ini yaa..


Baca Juga: Belajar Eco-Enzyme dan Cuci Tangan Bersama BUN


Pada tanggal 27 Juni 2021, tepatnya hari minggu, BUN mengadakan kegiatan yang ketiga looh.. Sobat BUN, kira – kira apa nih kegiatan yang dilakukan bersama adik-adik KBA? Yap..  betuull, sesuai dengan judul ya Sobat BUN, kegiatan kali ini membahas atau bertemakan tentang “Mengenal Primata dan Perannya dalam Lingkungan Hidup”. Naah.. pada tema kali ini kita kedatangan tamu sobaat.. tamu kita adalahh dari KPP Tarsius, ada Kak Basyuri, Kak Lingga dan Kak Vanes. Tau ngga KPP Tarsius itu apa sih, sobat BUN?? Naahh.. KPP Tarsius adalah Kelompok Pengamat Primata Tarsius, Wahh.. pengamat primata, pasti bertanya-tanya dongg yaa sobat BUN, kita bakal belajar apa nih? Simakk terus ya Sobaatt BUN.

Mengawali kegiatan kita melakukan “Tepuk Doa” dilanjutkan dengan membaca surah Al-fatihah. Kemudian adik-adik KBA diberi arahan untuk menggunakan masker dan menjaga jarak karena kasus Covid-19 yang makin meningkat. Dilanjutkan dengan kegiatan belajar adik-adik KBA. 


Baca Juga: Praktik Membuat Eco-Enzyme


Proses belajar bersama KPP Tarsius dan panitia BUN 2021 (dok. Farah)

Dengan bahasan kali ini, adik-adik KBA belajar mengenai hutan dan manfaatnya, apa itu primata dan mamalia, serta berbagai jenis hewan primata dan ciri khasnya. Aku jelasin secara singkat yaa.. biar tau juga nih. Hutan adalah suatu kawasan atau tempat berisi sumber daya alam yang didominasi atau dipenuhi oleh pepohonan, nah, manfaat hutan banyak looh.. sobat, terutama bagi kita nih manusia, salah satu contohnya hasil dari hutan dapat untuk memenuhi kebutuhan (sandang, pangan, dan papan) manusia itu sendiri. Lanjut ke primata yaaa sobaat.. Primata itu adalah Hewan mamalia seperti kera, lutung, monyet ekor panjang, lumur, tarsius dan sejenis lainnya, Sobat BUN. Naah.. mamalia itu sendiri merupakan yang memiliki kelenjar menyusui dan rambut sebagai salah satu ciri khasnya. Dilanjutkan dengan berbagai jenis primata dan ciri khasnya yang unik-unik. Menarik banget bukan? Jujur aku juga tertarik banget nih, Sobat BUN. Menurut ku, makhluk hidup itu unik dengan berbagai karakteristik atau ciri khas nya masing-masing, termasuk primata ini, Sobaat BUN. Seperti pada primata tarsius yang memiliki keunikan atau ciri khas dalam tingkah laku menjilat rambut yang berlebihan, menandakan terjadinya gumpalan rambut yang dapat menyebabkan kematian, (Menurut Erni Suliswati).


Gambar kera besar (dok. Kompas.com)

Untuk apa ya belajar itu semua, Sobat BUN? Kita belajar itu semua agar dapat tau mengenai hal-hal tentang primata sebagai penyokong kelestarian ekosistem hutan Sobat BUN, seperti primata kera besar yang meliputi gorilla, simpanse, dan bonobo, dimana primata ini tuh berperan penting dalam menjaga kesehatan hutan dalam jangka panjang dan skema-skema perubahan iklim seperti Pengurangan Emisi dari pencegahan Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+). Bagaimana kok bisa ternyata kera besar ini berperan dalam pelestarian ekosistem hutan? Jadi gini Sobat BUN, ternyata Peran primata yang diketahui sebagai pemakan buah ini berperan menjadi agen penyebar biji dari 75 sampai 95 persen jenis pohon (Menurut forestnews.cifor.org). Wahh.. keren bangetkan Sobat BUN ternyata primata aja yang menempati hutan berperan untuk melestarikan hutan. Bagaimana dengan kita Sobat BUN? Dan juga diketahui kera besar ini salah satunya kera besar afrika mengutip data dari Science Alert, setengah dari jumlah seluruh habitat kera besar di Afrika yang hilang dapat terjadi di kawasan lindung, seperti taman nasional. Bahkan Peneliti memperkirakan, 94 persen habitat kera besar di Afrika akan hilang pada tahun 2050. Maka daripada itu, diharapkan juga adik-adik dapat peduli dan melestarikan lingkungan, minimalnya di lingkungan sekitarnya dulu Sobat BUN. Karena adik-adik adalah penerus untuk masa yang akan datang, maka kita haruslah menumbuhkan rasa peduli pada lingkungan dengan memberi materi belajar dan juga mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari.


 
Potret hasil mewarnai dan menulis harapan adik-adik KBA (dok. Farah)

Kegiatan kita ini ngga cuma belajar loohh.. Sobat BUN, untuk adik-adik KBA yang masih SD mewarnai dua gambar hewan primata, hasil mewarnainya kita gunting dan salah satu gambar ditempel di karton sobat untuk kenang-kenangan selama belajar bersama kita. Sedangkan adik-adik KBA yang sudah SMP dan SMA menuliskan harapan nya nih, kenapa ditulis harapannyaa? diharapkan harapannya terwujud, karena kita doakan bersama-sama.


 

Proses bermain games “Tebak Jenis Primata” (dok. Farah)

Selanjutnya, sebelum kegiatan kita selesai. Kita mengadakan  kegiatan review nih sobaat.. kita review seperti biasa, dengan kita bermain games bareng adik-adik KBA, kali ini games yang dimainkan yaitu “Tebak Jenis Primata”. Games dipimpin oleh Kak Lingga dan Kak Vanes (anggota KPP Tarsius), dengan menunjukan gambar salah satu jenis hewan primata lalu adik-adik yang tau jawabannya cepat-cepat mengacungkan jari telunjuknya, karena yang paling cepat mengacung dapat menjawab. adik-adik KBA sangat antusias dan pintar-pintar looh.. Sobat BUN. Senang deh liat antusias adik-adik KBA dalam mengenal berbagai jenis hewan primata. Kegiatan diakhiri dengan berdoa bersama dan pembagian hadiah sobaat.. sebagai merchandise.


Pembagian merchandise (dok. Farah)

Sepertinya sudah cukup banyak cerita nihh.. yang ku ceritain sobaat. Ku akhiri cerita kegiatan bersama  adik-adik KBA kali ini yaaa. Eiett.. jangan sedih sobat, kita masih ada lagi nih, dua minggu berikutnya. Ikuti terus kegiatan BUN belajar dan bermain bareng adik-adik KBA sampai akhir di bulan September. Jangan sampai terlewat yaa sobaatt.. semoga dengan membaca tulisan ini, kita sama-sama bisa mendapat banyak manfaat. Ayo Sobaat BUN, kita turut serta menjaga kebersihan bumi kita! Kalau bukan kita siapa lagi? Dan jangan lupa untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dengan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak) yaaa Sobat BUN! Bantu share artikel-artikel ini ya Sobatt, Salam lestari! Sampai jumpa lagi!


Penulis:

Salsabila Ratna Wulandari

Praktik Membuat Eco-Enzyme

Praktik Membuat Eco-Enzyme


Pembukaan kegiatan BUN (dok. Metalinda)

       Haloo Sobat BUN! Gimana nih kabarnya? Semoga sehat selalu yaa! Kalian penasaran ga nih adik-adik KBA kemarin ngapain aja?? Penasaran dong? Yuk yukk aku ceritain gimana serunya kegiatan belajar bareng KBA tanggal 13 Juni kemarin!. Setelah minggu lalu kita belajar tentang “Apa itu Eco-Enzyme?” dan “Praktik Mencuci Tangan dengan Benar”, hari ini adik-adik KBA belajar loohh gimana caranya membuat Eco-Enzyme sendiri. Kenapa sih target pembelajarannya ke anak-anak? Karenaaaa anak-anak inilah yang nantinya akan memimpin dan menjadi Agent of Change bagi bangsa maupun dunia. Dengan harapan mereka dapat mewujudkan lingkungan yang hijau dan asri, serta terbebas dari tumpukkan sampah organik maupun non-organik. Sobat BUN tau ga nih, alat dan bahan apa aja sih yang dibutuhkan untuk membuat Eco-Enzyme? Nah, untuk bahannya kita cuma perlu 3 bahan sederhana, yaitu limbah kulit buah sebagai bahan utamanya, gula molase, dan aquadest. Untuk alatnya apa aja kak? Alat yang digunakan juga mudah didapatkan lohh! Kalian bisa pinjam peralatan dapur milik orang tua kalian, seperti botol plastik bekas, timbangan buah, gelas ukur, sendok, wadah, dan gunting.




Proses pemilahan limbah organik (dok. Metalinda)

       Terus cara buatnya gimana kak? Eitss sebentar.. sebelum dibuat Eco-Enzyme harus dipastikan tidak ada sampah non-organik yang tercampur yaa.. Jadi harus dipilah dengan teliti terlebih dahulu. Sobat BUN tau ga nih, kenapa sih kita milih untuk praktik membuat Eco-Enzyme? Kenapa ga praktik yang lain aja? Nahh, tentunya Sobat BUN masih ingat dong di artikel sebelumnya dijelaskan bahwa Eco-Enzyme ini merupakan produk yang ramah lingkungan. Jadi, pembuatan Eco-Enzyme ini dapat mengurangi limbah organik yang ada di bumi lohh! Hah? Kok bisa gitu? Iya dong bisa.. Gini-gini, kalo kita beli buah, daging buahnya pasti kita makan. Namun, kulit buahnya? Sobat BUN emang suka makan kulit buah juga? Pastinya ngga dong hehe.. Coba bayangin deh, kalo setiap hari kita rutin makan buah dan sayur, dalam sebulan kira-kira limbah organik ini bisa terkumpul satu plastik penuh. Wah banyak juga yaa! Padahal itu baru perumpamaan satu orang. Dilansir dari United Nations–Department of Economic and Social Affairs, penduduk di bumi pada tahun 2021 mencapai 7,87 miliar jiwa. Yaampun banyak banget kan Sobat BUN! Kalo sampah organik semua manusia yang hidup di bumi dikumpulkan jadi satu, kira-kira butuh berapa hektar lahan yang digunakan ya? Banyak banget pastinya! Tapi kak, bukannya sampah organik, bisa terurai dengan sendirinya? Betul memang bisa, tapi kalau sampah-sampah organik ini terurai sendiri, tidak banyak manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh manusia. Inilah salah satu alasan kenapa BUN mengajarkan adik-adik KBA cara membuat Eco-Enzyme.


Me-review materi Ecoenzym minggu lalu (dok. Metalinda)

       Setelah diberikan review materi minggu lalu, adik-adik KBA dibagi menjadi 3 kelompok, nantinya setiap kelompok akan dibimbing oleh masing-masing 2 kakak pendamping dari BUN. Adik-adik KBA semangat banget loohh waktu diminta membawa alat dan bahan yang diperlukan. Sekarang kita lanjut ke langkah-langkah pembuatan Eco-Enzyme yukk! Pertama-tama kakak pendamping BUN menyiapkan semua alat dan bahan-bahannya nih.. Terus adik-adik KBA bertugas menggunting limbah kulit jeruk menjadi kecil agar enzim yang berada di kulit buah cepat terurai dan dapat memberikan manfaat yang sangaaaaaaat banyak Sobat BUN!. Ohh iya yang bertugas menggunting itu adik-adik yang sudah Sekolah Menengah yaa.. karena gunting merupakan benda tajam yang dapat melukai kulit, jadi harus digunakan secara hati-hati. Terus adik-adik yang masih Sekolah Dasar ngapain dong kak? Adik-adik yang masih Sekolah Dasar diberi tugas menimbang dan memasukan limbah kulit jeruk yang telah di potong tadi ke dalam botol plastik, supaya adik-adik paham bagaimana cara menimbang yang benar, sehingga nantinya ilmu ini dapat diterapkan dan dipraktikkan dirumah masing-masing. Nahh setelah kulit jeruk dipotong kecil-kecil, kemudian ditimbang seberat 210 gram, lalu dimasukan ke dalam botol plastik. Disarankan menggunakan limbah kulit jeruk yaa Sobat BUN! Tujuannya supaya hasil Eco-Enzyme nya beraroma segar seperti jeruk. Setelah itu kita menimbang gula molase sebanyak 70 gram, kemudian adik-adik KBA menuangkan gula molase nya ke dalam botol plastik. Langkah terakhir yaitu mengukur aquadest sebanyak 700 ml lalu dituangkan juga ke dalam botol plastik. Setelah itu botolnya jangan lupa di kocok ya Sobat! Supaya semua bahan dapat tercampur dengan baik. Oh iya Sobat BUN untuk takarannya tidak harus sama seperti yang telah disebutkan yaa.. Intinya memiliki perbandingan 1 : 3 : 10. 1 untuk gula molase, 3 untuk limbah organik dan 10 untuk aquadest.


Proses memasukkan aquadest dan gula molase (dok. Metalinda)

       Sobat BUN tau ga nih, aquadest tuh apa sih? Jadi gini Sobat, aquadest merupakan air hasil destilasi/penyulingan. Berbeda dengan air mineral, aquadest murni hanya mengandung air tanpa adanya mineral atau zat terlarut lainnya. Kalo pakai air keran sebagai pengganti aquadest untuk membuat Eco-Enzyme bisa ga yaa? Sebetulnya bisa aja Sobat.. Namun dikhawatirkan ada mikroorganisme lain yang dapat mengganggu proses fermentasi limbah kulit buah tadi. Jadi sangat disarankan menggunakan aquadest yaa.. Nah, Eco-Enzyme nya disimpan selama 3 bulan yaa Sobat. Wahh lumayan lama yaa?.. Iya Sobat, penyimpanan yang lumayan lama ini bertujuan agar produk yang dihasilkan nantinya memiliki kualitas yang baik. Oh iya, kemarin Hata (adik KBA – tingkat SD) bertanya, “Nanti kalo udah 3 bulan jadinya kaya apa kak?”. Sobat BUN penasaran juga ga nihh? Kasih tau ga yaa?.. Makanya ikutin terus kegiatan BUN bareng adik-adik KBA biar tau nanti bentuk produk Eco-Enzyme nya seperti apa.


        Baca Juga: Review Materi Eco-Enzyme dan Praktik Hasil Akhir Eco-Enzyme


Proses memasukkan limbah kulit jeruk (dok. Metalinda)

       Ohh iya Sobat BUN! Jangan lupa yaa, botolnya diberi nama dan tanggal pembuatan. Udah kayak manusia aja yaa dikasih nama hehehe.. Pemberian nama dan tanggal ini bertujuan untuk mengingatkan bahwa proses fermentasi Eco-Enzyme berlangsung selama tiga bulan dan sebagai pengingat bahwa Eco-Enzyme ini telah dibuat pada hari dan tanggal yang tertera. Satu lagi yang paling penting nih Sobat BUN! Setiap 7 hari sekali tutup botolnya harus di buka yaa.. Karena proses fermentasi juga menghasilkan gas. Apabila Sobat lupa membuka tutup botolnya, bisa-bisa isi dari botol nya akan terpental keluar, nanti gagal deh buat Eco-Enzyme nya. Sobat BUN udah tau belum? Produk hasil Ecoenzym bermanfaat buat apa aja? Nah, ini dia! Manfaat produk hasil Eco-Enzyme itu banyak banget loohh.. Bisa digunakan sebagai desinfektan, cairan pembersih lantai, untuk membersihkan toilet, untuk menyiram tanaman juga bisa loohh. Satu lagi nih yang ga kalah keren. Produk Eco-Enzyme ini bisa digunakan sebagai handsanitizer. Lohh kok bisa dari sampah menjadi pelindung kita dari virus dan bakteri?? Jadi gini Sobat BUN, nantinya setelah 1 bulan Eco-Enzyme ini akan menghasilkan Alkohol, bulan berikutnya akan menghasilkan Enzim, dan dibulan ke-3 sempurna sudah fermentasinya. Dilansir dari waste4change, bahwa Eco-Emzyme ini menghasilkan alkohol dan asam asetat yang bersifat disinfektan. Hal inilah yang membuat Eco-Enzyme dapat membunuh virus dan bakteri. Pas banget kan nih! Lagi masa pandemi kaya sekarang kita harus pintar-pintar menjaga kebersihan Sobat! Salah satunya rajin mencuci tangan dengan sabun maupun handsanitizer. Namun sebelum digunakan menjadi handsanitizer, ada beberepa tahap dulu yang harus dilakukan, yang pasti mudah kok Sobat BUN. Gimana tuh caranya..? Eittss sabar dulu... Masih banyak kok agenda kegiatan BUN ke depannya, pertanyaan ini akan dijawab di next artikel yaa Sobat BUN, saat Eco-Enzyme sudah selesai difermentasi selama 3 bulan.


Kegiatan bermain games “Tebak Hewan” bersama adik-adik KBA (dok. Metalinda)

       Waahhh hari ini kita dan adik-adik KBA belajar banyak hal yaa! Mulai dari praktik membuat Eco-Enzyme sampai manfaat Eco-Enzyme yang dapat dijadikan handsanitizer sebagai antibakteri dan virus. Sebelum kegiatan kita selesai, seperti biasa kita selalu main games bareng adik-adik KBA, kali ini games yang dimainkan yaitu “Tebak Hewan”. Kak Amel (panitia BUN 2021) menyebutkan ciri-ciri seekor hewan, kemudian nanti adik-adik KBA menjawab hewan apa yang memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan kak Amel tadi.. Adik-adik KBA pintar banget loohh Sobat! Mereka bisa menjawab pertanyaan kak Amel dengan cepat. Bahkan, Atta (salah satu adik KBA – tingkat SD) menjelaskan kepada teman-temannya tentang keberadaan badak bercula yang hampir punah karena diburu manusia. Pokoknya senang banget lihat antusias dan semangat adik-adik KBA hari ini!


Potret serunya kegiatan membuat Ecoenzym bersama adik-adik KBA (dok. Metalinda)

       Sayangnya waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, tandanya selesai sudah kegiatan BUN bersama adik-adik KBA hari ini. Eittss tapi jangan sedih Sobat! 2 minggu lagi kita punya kegiatan yang ga kalah seru loohh.. Ikutin terus yaa kegiatan BUN belajar dan bermain bareng adik-adik KBA sampai akhir! Semangat terus buat adik-adik KBA dan Sobat BUN dalam menuntut ilmu! Semoga dengan membaca tulisan ini kita sama-sama bisa mendapat banyak pelajaran.. Sobat BUN! Ayo turut serta menjaga kebersihan bumi kita! Kalau bukan kita siapa lagi? Dan jangan lupa untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dengan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak) yaaa Sobat BUN! Salam lestari! Sampai jumpa lagi!


Penulis:

Farah Aulia Rahmah


Belajar Eco-Enzyme dan Cuci Tangan Bersama BUN

Belajar Eco-Enzyme dan Cuci Tangan Bersama BUN

Pembukaan BUN 2021 (dok. Farah)

       Tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu, sebelum kami berbagi pengalaman lebih dalam, kami akan berbagi sedikit informasi mengenai BUN. Apa sih BUN itu? BUN adalah singkatan dari Biologi Untuk Negeri, yakni salah satu kegiatan Himpunan Biologi Oryza sativa khususnya dalam Divisi Pendidikan dan Pengembangan (DIKBANG) yang bergerak untuk mengabdi kepada masyarakat dan negeri kita tercinta ini dalam bidang pendidikan dengan memberikan edukasi, pelatihan, serta pembelajaran kepada anak-anak dan warga sekitar. Kegiatan BUN kali ini bertemakan lingkungan, yang tentunya kami akan membagikan ilmu mengenai lingkungan dan juga pelatihannya. Kami juga berusaha berkontribusi menjaga lingkungan agar tetap bersih supaya bumi kami kembali hijau. Oh iya, sedikit menyampaikan informasi perihal DIKBANG yap, ehehehe. DIKBANG itu pendidikan dan pengembangan yang setiap tahunnya selalu mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, pelatihan, dan berbagi serta penyaluran donasi kepada saudara kita yang membutuhkan. Eiitttsss, seru banget kan kegiatan DIKBANG? Lebih seru lagi kegiatan BUN 2021 yang Alhamdulillah diberi kesempatan untuk bekerjasama dengan Komunitas Belajar Anak (KBA). Peresmian kerjamasa antara BUN dan KBA ditandai dengan penyerahan Memorandum of Understanding (MoU) dari BUN kepada KBA pada Minggu, 30 Mei 2021. 

 
Penyerahan Memorandum of Understanding (MoU) oleh BUN kepada KBA (dok. Fathnun)

       Sedikit informasi mengenai KBA dari Ka Windi Antika selaku ketua KBA. KBA merupakan komunitas yang menaungi anak-anak untuk melanjutkan pendidikannya bagi mereka yang putus sekolah dan membimbing mereka yang bersekolah. Sasaran khusus KBA ialah anak-anak pemulung atau anak-anak yang kurang mampu dalam pendidikannya. KBA ini mulai berdiri pada 22 September 2018. Wah.. sudah 3 tahun ya, Sobat BUN. Berdirinya KBA ini didorong atas kesadaran terhadap banyaknya anak-anak yang putus sekolah di lingkungan sekitar, yang disebabkan oleh faktor ekonomi dan anggapan masyarakat bahwa pendidikan itu tidak penting. KBA hadir untuk membangun dan mengatasi permasalahan tersebut. "Bahwa pendidikan ini sebenarnya merupakan aset berharga yang harus dimiliki oleh setiap anak-anak," ucap Kak Windi Antika. Sungguh luar biasa ya BUN dan KBA ini. Tapi.. perlu diketahui loooh, BUN tahun ini berbeda dengan BUN sebelumnya. Aaaaapaa tuh?? BUN tahun ini memiliki konsep long life education. Kenapaaa ya seeperti itu? Karena tahun ini sangat spesial! Kita diberikan tantangan untuk melawan pandemi COVID-19. BUN 2021 juga dibuat lebih spesial dengan agenda mengajar selama 3 bulan, yakni bulan Juni, Juli, dan September. Setiap bulannya dilakukan dua kali mengajar. Nah, pada perdana BUN mengajar kepada anak-anak KBA ini. BUN akan mengajarkan materi tentang Eco-Enzyme dan Cuci Tangan.


Wawancara kepada ketua KBA (dok. Farah)

       Kegiatan perdana mengajar BUN ini dilaksanakan pada Minggu, 6 Juni 2021 dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Tentunya di situasi pandemi ini, kami menerapkan protokol kesehatan. Setiap anak-anak yang datang kami himbau untuk mencuci tangan, menggunakan masker, dan melakukan pemeriksaan suhu. Salah satu hal yang membuat kami bangga terhadap anak-anak KBA, mereka sangat antusias untuk mengikuti pembelajaran. Dengan inisiatif mereka membawa buku dan alat tulis. Kegiatan BUN ini diawali dengan perkenalan baik dari panitia BUN kepada anak-anak KBA maupun sebaliknya dengan bantuan dari KBA. Dilanjut pembukaan oleh MC disusul sambutan-sambutan dari Kak Ade Basyuri selaku Ketua Pelaksana BUN 2021, Kak Windi Antika selaku Ketua KBA, dan Kak Alif Irgi selaku Ketua HIMBIO Oryza Sativa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
       Kemudian masuk ke acara inti, yaitu pengajaran BUN mengenai materi Eco-Enzyme dan Cuci Tangan kepada anak-anak KBA. Anak-anak KBA beragam ada yang SMK, SMP, SD, dan ada yang tidak bersekolah. Tentunya agar mereka dapat dengan mudah memahami materi saat pembelajaran. BUN membagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama terdiri dari mereka yang tidak bersekolah dan SD kelas 1 sampai 4 dan selebihnya masuk ke kelompok 2. Selama pembelajaran pun mereka sangat antusias mendengarkan bahkan mencatat apa yang diajarkan. Namun, tidak semua anak-anak KBA dapat menulis, jadi panitia BUN membantu dalam pembelajaran mereka. Tentunya diselingi materi yang diajarkan, kami melakukan beberapa ice breaking agar anak-anak KBA tetap merasa nyaman dan tidak bosan. 


       Baca Juga: Praktik Membuat Eco-Enzyme

Proses pembelajaran materi Ecoenzym kepada anak-anak KBA (dok. Farah)

       Sobat BUN penasaran bukan, kenapa BUN ini memilih untuk mengajarkan materi Eco-Enzyme dan Cuci tangan kepada anak-anak KBA. FYI, Eco-Enzyme ini merupakan produk yang ramah lingkungan juga tidak sesulit yang dibayangkan loh cara membuatnya. Karena tentunya bahan-bahan yang digunakan berasal dari sampah organik. Disinilah BUN bertujuan untuk mengajarkan kepada anak-anak KBA bahwa sampah yang nampak seperti tidak dapat digunakan lagi, ternyata bisa digunakan kembali. Kembali untuk hal-hal yang bermanfaat. Dengan hal ini BUN berharap Eco-Enzyme ini dapat diaplikasikan oleh anak-anak KBA dalam kehidupan sehari-hari. Dan tentunya BUN juga berharap Eco-Enzyme ini sekaligus dapat melindungi bumi tercinta kita ini dari banyaknya sampah. Perlu Sobat BUN ketahui bahwa kategori sampah di Indonesia yang paling banyak yaitu sampah organik loooh sebesar 60%, maka dari itu dengan adanya Eco-Enzyme yang diajarkan kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, diharapkan akan menjadi tongkat estafet pergerakan untuk membenahi sampah yang membeludak di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dari yang tidak bernilai hingga menjadi bernilai yang memiliki kualitas yang amaaat sangaaaat bermanfaat. Eco-Enzyme banyaak manfaaatnya loh sobat BUN, diantaranya dapat dijadikan handsanitizer, desinfekan, pembersih lantai dan masih banyaak lagi. Bagaimana cara membuatnya??? Next mengajar kami akan tuliskan di artikel ini, jadi stay tune yap ehehehe.
       Kemudian kenapa materi Cuci Tangan? Seperti yang kita ketahui, tangan merupakan organ tubuh yang paling sering kita gunakan untuk aktivitas sehari-hari. Sebab itu, ada dua kemungkinan dari kedua tangan kita ini pertama dapat menjadi pusat virus dan bakteri, kedua dapat menjadi perantara masuknya bakteri dan virus ke dalam tubuh kita. Oleh karena itu, disini BUN bertujuan untuk mengajarkan kepada anak-anak KBA bagaimana sih cara yang baik dan benar dalam mencuci tangan guna mencegah virus dan bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh. Ditambah saat ini masih suasana pandemi COVID-19. Jadi tentunya cuci tangan ini merupakan upaya kita untuk mencegah penyebaran virus dan bakteri terutama saat ini virus COVID-19.


Proses pembelajaran materi Cuci Tangan kepada anak-anak KBA (dok. Wanda)

       Mencuci tangan merupakan hal yang sangat lumrah bukan bagi setiap insan? Iyaa doong, namun mencuci tangan dengan benar adalah hal yang jarang diketahui kebanyakan orang lohhh. Anak-anak sangat antusias dalam mendengarkan materi tersebut sehingga ketika dipanggil ‘Siapa yang berani maju mempraktekkan?’ Septi, kelas 5 Sekolah Dasar memberanikan diri untuk mempraktekkan mencuci tangan yang benar, lalu dilanjut dengan anak-anak yang lain. Melihat keberanian Septi, sungguh terasa malu jika kita, para orang dewasa tidak benar dalam mencuci tangan yang menjadi pusat utama untuk beraktivitas, maka dari itu Sobat BUN mari tularkan kebaikan dengan mencuci tangan yang benar yaap agar kita bisa melindungi orang yang kita sayangi. Ohhiya, di paragraf atas ada yang menyebutkan bahwa ‘Eco-Enzyme’ dapat menghasilkan ‘Handsanitizer‘, lalu bagaimana caranya kok bisa dari sampah menjadi pelindung kita dari virus dan bakteri?? Ettss masih banyak kok agenda kegiatan BUN, pertanyaan tersebut akan dijawab di next artikel yap Sobat BUN.
       Tak terasa Sobat BUN, ternyata sudah 7 paragraf hihihi. Gimana penasaran sama kegiatan selanjutnya? Stay tune, terus disini, karena kita bakal terus update tentang kegiatan kita ini, yang tentunya gak kalah seru sama yang hari ini. Eitss, tapi disini kita bukan cuma seru-seruan. Kita juga belajar, dan semoga Sobat BUN yang membaca ini dapat turut belajar juga dari apa yang kita pelajari. Ayo Sobat BUN sama-sama kita lindungi bumi tercinta kita ini dari banyaknya sampah dengan memanfaatkannya kembali. Tentunya juga lindungi tubuh kita dari virus dan bakteri salah satunya dengan mencuci tangan. Salam Lestari! See you again :)


Penulis:

Fathnun Nur Husnina

Ade Basyuri