Sukun –  Arthocarpus altilis

Sukun – Arthocarpus altilis


Klasifikasi Ilmiah 

Kingdom : Plantae 

Divisi : Spermathophyta 

Kelas : Dycotylodonae 

Ordo : Rosales 

Famili : Moraceae 

Genus : Arthocarpus 

Spesies : Arthocarpus altilis


Deskripsi 

Tanaman sukun memiliki batang kayu yang lunak, kulit batang berwarna hijau kecoklatan, berserat kasar dan pada semua bagian tanaman memiliki getah encer. Akar tanaman sukun biasanya ada yang tumbuh mendatar atau menjalar dekat permukaan tanah dan dapat menumbuhkan tunas alami. Buah sukun berbentuk bulat sampai lonjong dengan ukuran panjang bisa lebih dari 30 cm, lebar 9-20 cm, dengan daging buah berwarna putih, putih-kekuningan atau kuning.


Fungsi

Bagi masyarakat Indonesia, konsumsi buah sukun umumnya masih terbatas sebagai makanan ringan dan sayur. Sebagai salah satu sumber bahan pangan alternatif, buah sukun terbukti memiliki kandungan gizi cukup tinggi.

Buah sukun mengandung berbagai jenis zat gizi utama yaitu karbohidrat 25%, protein 1,5% dan lemak 0,3% dari berat buah sukun.


Habitat 

Sukun (Arthocarpus altilis) merupakan salah satu tanaman penghasil buah utama dari keluarga Moraceae. Tanaman ini sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia bahkan di beberapa negara di kawasan Pasifik seperti Fiji, Tahiti, Kepulauan Samoa, dan Hawai dan Indonesia.


Perawatan 

Biasanya, jika pohon sukun memiliki daun yang terlalu rimbun, dulur perlu melakukan pemangkasan. Hal ini agar tidak ada bagian pohon yang terhalang mendapat asupan sinar matahari. Dulur juga bisa memangkas cabang pohon agar muncul banyak tunas pada pohon sukun dulur. 

Selain itu, penting untuk dilakukan pemupukan agar pohon sukun terus mendapatkan asupan yang bergizi. Biasanya, pemupukan dulur lakukan 3 bulan sekali. Tapi, saat sukun sudah berbuah, intensitasnya bisa dulur kurangi menjadi setahun 2 kali saja. 


Referensi 

Adinugraha, H. A., and N. K. Kartikawati. “Variasi Morfologi Dan Kandungan Gizi Buah Sukun.” Wana Benih, 2012.

Prastyono, S. D., H. A. Adinugroho, and N. K. Kartikawati. “Pengembangan Teknik Budidaya Sukun (Artocarpus Altilis) Untuk Ketahanan Pangan.” Jakarta: IPB Press, 2014.

Siregar, A. S. Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus Communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara. repositori.usu.ac.id, 2009. https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/64076.


Beringin –  Ficus Benjamina

Beringin – Ficus Benjamina

 


Klasifikasi Ilmiah 

Kingdom : Plantae 

Divisi : Tracheophyta 

Kelas : Magnoliopsida 

Ordo : Rosales 

Famili : Moraceae 

Genus : Ficus L.

Spesies : Ficus Benjamina L.


Deskripsi 

Pohon beringin memiliki ciri khas berupa akar gantung yang menjulur dari atas ke bawah dalam jumlah banyak, sehingga tampak seperti garis-garis vertikal yang menopang pohon tersebut.

Tanaman ini dapat tumbuh hingga mencapai sekitar 20-25 meter. Batang tegak, bulat, percabangan simpodial, permukaan kasar, pada batang tumbuh akar gantung berwarna coklat kehitaman.


Fungsi

Pohon beringin atau Ficus benjamina terkenal memiliki banyak manfaat dalam bidang kesehatan. Getah dan daunnya sering digunakan oleh masyarakat sebagai obat peradangan, kulit, gangguan pencernaan, kusta, dan malaria. 

Pohon beringin juga memiliki potensi sebagai obat antibakteri, antinyeri, antidemam, dan antikanker. Tidak hanya di bidang kesehatan, daun dan rantingnya juga sering dipakai sebagai repellant serangga dalam Masyarakat.


Habitat 

Pohon beringin (Ficus benjamina Linn.) merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia. Pohon beringin yang merupakan tanaman asli Asia Tenggara termasuk dari Indonesia dan sebagian Australia.


Referensi 

Aslamiah, S., and H. Haryadi. “Identifikasi Kandungan Kimia Daun Pohon Beringin (Ficus Benyamina L.) Sebagai Obat Tradisional.” Anterior Jurnal, 2013. https://journal.umpr.ac.id/index.php/anterior/article/view/287.

Mudawaroch, R. E., A. Pangestu, and ... “Pengadaan Dan Penanaman Pohon Beringin (Ficus Benjamina L) Sebagai Upaya Penanggulangan Longsor.” Prosiding Seminar …, 2021. https://ojs-upgrade.ummat.ac.id/index.php/SEMNASPUMMAT/article/view/6564.

Wibowo, F., A. P. Wicaksono, and ... “Klasifikasi Tanaman Beringin (Ficus Bernjamina) Berdasarkan Citra Daun Menggunakan Algoritma K-Nearest Neighbors.” Jurnal Teknologi Dan …, 2021. https://jurnal.unmer.ac.id/index.php/jtmi/article/view/6758.


Jambu Mawar –  Syzygium jambos

Jambu Mawar – Syzygium jambos

 


Klasifikasi Ilmiah 

Kingdom : Plantae 

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida 

Ordo : Myrtales 

Famili : Myrtaceae 

Genus : Syzygium

Spesies : Syzygium jambos


Deskripsi 

Postur pohon jambu mawar tidak terlalu besar, tingginya mencapai 10 m. Batangnya berwarna coklat pucat, dengan percabangan rendah dan melebar. Memiliki sistem perakar tunggal, daunnya berbentuk lanset, tebal, licin. Ketika masih muda warnanya merah muda mengkilat, selanjutnya menjadi hijau tua bila sudah tua.

 Bunganya berwarna putih atau krem pucat, besar, mencolok dan baunya harum. Tangkainya pendek dan biasanya terletak pada ujung cabang-cabang yang berdaun. Buah jambu mawar berbentuk hampir bulat, agak lonjong atau melebar pada dasarnya, garis tengahnya 4-5 cm. Bila sudah masak warnanya kuning pucat atau kehijau-hijauan, dengan kulit yang licin dan agak keras. Warna bijinya coklat dan jumlahnya satu sampai dua.


Fungsi

Jambu mawar merupakan salah satu tanaman tropis khas Indonesia yang digunakan sebagai obat tradisional yang mengandung senyawa antibakteri tetapi tanaman ini sangat jarang ditemukan dan belum dikenal oleh masyarakat.


 Habitat 

Jambu mawar alias jambu kraton adalah anggota suku jambu-jambuan atau Myrtaceae yang berasal dari Asia Tenggara, khususnya di wilayah Malaysia. Dinamai demikian karena buah jambu ini memiliki aroma wangi yang khas seperti mawar. Tanaman ini dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah, dengan drainase, dapat ditanam di daerah pantai sampai pegunungan setinggi 1.200 m di atas permukaan laut.

 Mengikuti peradaban manusia, tanaman ini disebarluaskan ke pelbagai wilayah tropis di dunia sejak beratus tahun yang lalu. Sebagian di antaranya telah meliar kembali di alamnya yang baru. Di beberapa negara, tanaman yang mudah beradaptasi dan berbiak ini kini mulai dianggap sebagai ancaman, karena cenderung bersifat sedikit invasif.


Perawatan

Jambu Mawar dikenal karena kebutuhan perawatannya yang relatif sederhana. Poin perawatan khusus yang penting termasuk memastikan tanah memiliki drainase baik tetapi tetap lembap, serta menyediakan akses sinar matahari penuh untuk pertumbuhan optimal. 

Pemangkasan secara teratur untuk mempertahankan bentuk dan mendorong sirkulasi udara sangat penting mengingat pertumbuhannya yang cepat. 


 Referensi 

Soetomo, S., E. Eviyana, N. A. Choironi, and ... “Isolasi Dan Identifikasi Senyawa Aktif Dari Daun Jambu Mawar (Syzygium Jambos (L.) Alston.” Jurnal Sains Dan …, 2019. https://garuda.kemdikbud.go.id/documents/detail/2821592.

Wibisono, G. Y. “Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Dan Kulit Batang Jambu Mawar (Syzygium Jambos (L.) Alston) Terhadap Staphylococcus Aureus IFO 13276 Dan Escherichia ….” e-journal.uajy.ac.id, 2012. http://e-journal.uajy.ac.id/379/6/5BL01050.pdf.


Palem tulang ikan – caryota urens L.

Palem tulang ikan – caryota urens L.

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : liliopsida

Subkelas : arecidae 

Ordo : arecales

Famili : arecaceae

Genus : caryota

Spesies : caryota urens L.


Deskripsi

Spesies Caryota merupakan satu satunya palem yang memiliki daun berbentuk bipinate. Daun berbentuk seperti ekor ikan oleh karena itu palem ini dijuluki fishtail palm. Caryota urens tersebar di daerah tropis. Tumbuhan ini tumbuh baik di tanah gembur dan lembab. Caryota berasal dari kata Yunani karyotes, yang artinya "nutlike." , urens dalam bahasa latin berarti "menyengat," yaitu sejenis minuman tuak sawit, anggur sawit dan Jaggery sawit. C. urens tumbuh di bawah hutan tropis pada ketinggian 300 - 1500 m dpl. Caryota urens merupakan pohon dengan tinggi hingga 15 m dan memiliki diameter batang mencapai 30 cm. Daun bipinnate berbentuk segitiga berwarna hijau terang hingga hijau tua. Pembungaan berbentuk tandan yang tersusun dalam bentuk malai (panicle) yang terdiri atas bulir-bulir


Fungsi 

Caryota urens dapat digunakan untuk mengobati maag, sakit kepala migrain, keracunan gigitan ular, serta pembengkakan akibat rematik.


Habitat

Tanaman ini tumbuh subur di iklim hangat, di mana sistem akar mereka yang luas membantu menopang dan secara efisien menyerap air dan nutrisi, mendukung pertumbuhan mereka dan produksi kelompok buah khas mereka. Tumbuhan ini berasal dari India, Malaysia, Myanmar, Nepal, Sri Lanka. C. urens tumbuh di bawah hutan tropis pada ketinggian 300 - 1500 m dpl.


Referensi

https://ayoketaman.com/


Darwin black wattle – acacia auriculiformis cunn. ex benth

Darwin black wattle – acacia auriculiformis cunn. ex benth

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : magnoliophyta

Subkelas : rosidae 

Ordo : fabales

Famili : fabaceae

Genus : acacia

Spesies : acacia auriculiformis cuss. ex benth


Deskripsi

Acacia auriculiformis, juga dikenal sebagai earleaf acacia atau Darwin black wattle, adalah sebuah pohon yang tumbuh cepat.

Pohon ini dapat tumbuh hingga 30 meter (98 kaki) tinggi dengan batang yang bercabang dan berdiameter hingga 50 cm (1,6 kaki).

Daun: Daunnya berbentuk panjang, lebar 1,5-2,5 cm (0,6-1,0 inci), dan memiliki 3-8 urat paralel. Daunnya tebal, lembut, dan melengkung.

Bunga: Bunganya berwarna kuning muda, panjang 8 cm (3,1 inci), dan berpasang-pasangan. Bunganya berbau harum dan beraroma manis.


Fungsi 

Digunakan sebagai tanaman hias, pohon peneduh, dan tanaman perkebunan untuk kayu bakar. Kayunya juga digunakan untuk membuat kertas, perabotan, dan alat-alat tukang. Pohon ini juga mengandung tannin yang berguna dalam tanning kulit hewan, Acacia auriculiformis memiliki beberapa manfaat lain seperti sumber makanan bagi burung seperti burung kutilang, myna, dan bulbul, serta digunakan oleh masyarakat lokal untuk berbagai keperluan


Habitat

Tegakan-tegakan alami akasia dapat dijumpai di Australia (Semenanjung Cape York, Queensland, sebelah utara Northern Territory), bagian tenggara Papua New Guinea dan Indonesia (Irian Jaya, Kepulauan Kai). Akasia telah didomestikasi sejak 50 tahun yang lalu, dan telah tersebar luas di kawasan Asia tropis. Akasia tumbuh pada daerah-daerah dataran rendah tropis beriklim lembab sampai sublembab, pada tanah-tanah di sepanjang tepi sungai, pada daerah berpasir di tepi pantai, dataran yang mengalami pasang surut air laut, danau-danau berair asin di dekat pantai, dan dataran yang tergenang air, Daerah penyebarannya memiliki rata-rata suhu maksimum 32--38 °C dan rata-rata suhu minimum 12--20°C. Curah hujan bervariasi antara 760 mm/tahun di kawasan Northern Territory (Australia) dan 2000 mm/tahun di Papua New Guinea, penyebarannya dipengaruhi oleh iklim monson yang musim keringnya dapat terjadi selama 6 bulan.


Referensi

Boro, T. L., Gaol, M. L., & Bessie, O. A. 2020. Analisis Populasi Jenis-Jenis Acacia di Kawasan Taman Hutan Raya Prof. Ir. Herman Johannes di Desa Kotabes Kecamatan Amarasi Kabupaten Kupang


Pohon naga – dracaena draco

Pohon naga – dracaena draco

 



Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : liliopsida

Subkelas : lilidae 

Ordo : liliales

Famili : agavacea

Genus : dracaena

Spesies : dracaena daraco (L.)L.


Deskripsi

Dracaena draco adalah spesies pohon tropis asli Kepulauan Canary. Ini adalah simbol nasional Tenerife. Kulit dan daun dari dracaena draco menghasilkan resin yang disebut darah naga, yang telah digunakan sebagai pewarna.

Tanaman Dracaena mampu beradaptasi dengan paparan matahari penuh ataupun dengan lingkungan teduh. Tanaman pohon naga memiliki sistem perakaran serabut, ia dapat tumbuh tegak mencapai 4 kaki dengan bentuk batang bulat dan beruas-ruas. Daun nya berbentuk tunggal, tidak bertangkai, dan pelepah memeluk batang. Daun berwarna hijau dengan tepi merah bila memperoleh cahaya yang cukup, dengan lebar daun 3-5 cm.


Fungsi 

dracaena juga berfungsi untuk menjaga kebersihan dan kesehatan. Dracaena termasuk tanaman yang digunakan oleh NASA Clean Air Study dan telah menunjukkan kemampuannya untuk membersihkan udara. Dalam hal ini ia menyerap formaldehida, benzena dan karbon monoksida dari udara


Habitat

Lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan dracaena adalah pada ketinggian 600 m – 1000 m dpl, dengan temperatur 24°C – 32°C, pada intensitas cahaya 55 – 75%, dan pH tanah 5,5 – 6,5. Tanaman hias dracaena secara umum dapat ditanam pada setiap jenis tanah. Faktor terpenting adalah tanah tersebut gembur dan berdraenase baik.


Referensi

https://www.sman1kalasan.sch.id/glossary/dracaena/


Cemara laut - Casuarina equisetifolia

Cemara laut - Casuarina equisetifolia

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Hamamelidae

Ordo : Casuarinales

Famili : Casuarinaceae

Genus : Casuarina

Spesies : Casuarina equisetifolia


Deskripsi

Casuarina equisetifolia, atau cemara laut, adalah spesies pohon yang sangat berharga karena kemampuannya beradaptasi di lingkungan pesisir. Pohon ini sering digunakan dalam proyek penghijauan pantai dan sabuk hijau karena kemampuannya menahan angin, pasir, kekeringan, serta toleransi terhadap kondisi garam. Spesies ini berperan penting dalam stabilisasi bukit pasir dan mengurangi erosi tanah di daerah pesisir. Dalam hal adaptasi fisiologis, C. equisetifolia menunjukkan pola ekspresi gen tertentu yang memungkinkannya bertahan dalam kondisi stres seperti kekurangan air dan kadar salinitas yang tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa gen NAC berperan dalam meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan dengan mengatur pertumbuhan dan mengurangi stres oksidatif (Xu et al., 2022).


Fungsi

Pohon ini sering digunakan dalam proyek penghijauan pantai dan sabuk hijau karena kemampuannya menahan angin, pasir, kekeringan, serta toleransi terhadap kondisi garam. Spesies ini berperan penting dalam stabilisasi bukit pasir dan mengurangi erosi tanah di daerah pesisir. Selain itu, pohon ini juga dikenal karena alokasi biomassa yang efisien, terutama di wilayah tropis seperti Pulau Hainan. Alokasi biomassa yang optimal pada akar, batang, cabang, dan daun memungkinkan pohon bertahan di tanah yang miskin nutrisi, yang biasa ditemukan di zona pesisir (Xue et al, 2016).


Habitat

Casuarina equisetifolia, yang dikenal juga sebagai cemara laut, terutama tumbuh di wilayah pesisir dan memiliki peran penting dalam stabilisasi pasir serta sebagai penahan angin di lingkungan tersebut. Habitat alaminya meliputi pantai berpasir dan bukit pasir di daerah tropis dan subtropis seperti Australia, Asia Tenggara, dan pulau-pulau Pasifik. Pohon ini sangat tahan terhadap kondisi keras di pesisir, termasuk kekeringan, salinitas tinggi, serta angin kencang, sehingga efektif untuk memperbaiki tanah yang terdegradasi dan melindungi garis pantai dari erosi (Lin et al., 2023).


Referensi

Lin, L., Hao, Z., Post, C. J., & Mikhailova, E. A. (2023). Protection of Coastal Shelter Forests Using UAVs: Individual Tree and Tree-Height Detection in Casuarina equisetifolia L. Forests. Forests, 14(2), 233. https://doi.org/10.3390/f14020233

Xu, H., Yu, J., You, L., Xiao, S., Nie, S., Li, T., Ye, G., & Lin, D. (2022). Drought Resistance Evaluation of Casuarina equisetifolia Half-Sib Families at the Seedling Stage and the Response of Five NAC Genes to Drought Stress. Forests, 13(12), 2037. https://doi.org/10.3390/f13122037

Xue, Y., Yang, Z., Wang, X., Lin, Z., Li, D., & Su, S. (2016). Tree Biomass Allocation and Its Model Additivity for Casuarina equisetifolia in a Tropical Forest of Hainan Island, China. PLoS ONE, 11(3), e0151858. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0151858


Palem Raja - Roystonea regia

Palem Raja - Roystonea regia

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Arecales

Famili : Arecaceae

Genus : Roystonea

Spesies : Roystonea regia 


Deskripsi

Palem raja termasuk dalam suku Arecaceae atau palem-paleman, yang merupakan tumbuhan biji tertutup (Angiospermae), dengan biji buah yang terbungkus daging. Tumbuhan ini tidak bercabang dan tumbuh tegak ke atas, dengan tinggi mencapai 20 hingga 30 meter (Helmidadang, 2012). Daun palem raja bersifat majemuk dengan beberapa anak daun yang memanjang dan ujung runcing, sementara pangkalnya berbentuk bundar dengan tulang daun menyirip. Warna daun hijau tua dan permukaannya licin.

Akar palem raja adalah akar serabut, termasuk golongan tumbuhan monokotil. Radikula pada bibit tumbuh memanjang selama sekitar 6 bulan, mencapai panjang 15 cm. Akar serabut terdiri dari serabut primer yang tumbuh vertikal ke dalam tanah dan horizontal ke samping, bercabang menjadi akar sekunder dan tersier. Kedalaman akar serabut palem raja berkisar antara 8 hingga 16 meter (Setyaningsih, 2018).

Batang palem raja lurus dan tegak tanpa cabang, dengan tinggi yang dapat mencapai 30 meter. Batang ini beruas-ruas dan karena termasuk monokotil, palem raja tidak memiliki cambium sejati, dengan saluran pembuluh yang menyebar di seluruh batang (Setyaningsih, 2018).

Bunganya terdiri dari panikula atau spadiks yang diliputi oleh spata yang bisa mengayu. Setiap bunga bisa uniseksual atau biseksual, dengan bentuk aktinomorf atau sedikit zigomorf, dan biasanya memiliki tiga sepal. Pada bunga betina, tepal biasanya berjumlah 2+2 atau kadang perianthium tereduksi atau bahkan tidak ada sama sekali, dan terdapat stamen yang umumnya berjumlah enam dalam dua lingkaran (Setyaningsih, 2018).

Buah palem raja berbentuk bulat agak oval, dengan kulit luar yang tebal, menutupi bagian dalam yang berair atau berserat. Penyerbukan antara bunga jantan dan betina berlangsung sekitar 5-6 bulan. Secara anatomi, buah terdiri dari perikarpium yang mencakup epikarpium dan mesokarpium, sementara bijinya terdiri dari endokarpium, endosperm, dan embrio. Epikarpium adalah kulit buah yang keras dan licin, sementara mesokarpium adalah daging buah yang berserabut dan mengandung minyak. Lembaga atau embrio adalah bagian dari biji yang akan menjadi tanaman baru (Setyaningsih, 2018).

Biji palem raja dilindungi oleh endokarpium yang keras dan berkayu. Serat buah dikenal sebagai sabut. Ketika masih muda, biji ini berisi cairan yang berangsur-angsur membentuk endapan dan mengeras seiring waktu, dengan kandungan lemak dan protein yang tinggi, sementara beberapa jenis biji masih menyisakan cairan di dalamnya.


Habitat

Palem raja berasal dari daerah Amerika dan Karibia. Nama Roystonea diambil dari nama seorang insinyur yang bekerja di kemiliteran AS, Roy Stone. Salah satu anggotanya, R. regia biasa ditanam di pinggir jalan atau di taman-taman. Habitat Palem raja (Roystonea regia) banyak di temukan di pulau Jawa. Palem raja bisa ditemukan di berbagai tempat sampai dan bahkan mampu tumbuh pada ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut (Putu, 2018).


Fungsi

Palem raja mempunyai beberapa manfaat antara lain sebagai berikut: Sebagai tanam hias taman, penghias pekarangan rumah, kayu bakar (pelepah) dan pohon penyejuk udara. Manfaat palem dapat dikelompokkan sebagia berikut: Sumber karbohidrat, baik dalam bentuk pati maupun gula contoh aren. sebagai sumber minyak conrohnya kelapa untuk minyak goreng. Daunnya bisa digunakan sebagai bahan anyaman. Banyak jenis palem yang sudah dimanfaatkan untuk tanaman hias jalan. (Anonimous, 2018)


Perawatan

Palem Raja adalah pohon palem yang kuat dan berkembang di berbagai kondisi, lebih menyukai iklim subtropis yang hangat hingga tropis. Dikutip dari laman PictureThis, titik perawatan kunci termasuk memastikan bahwa ia ditanam di lokasi dengan ruang yang memadai untuk status besar dan pertumbuhan vertikalnya serta penyebaran daun yang lebar. Palem Raja toleran terhadap berbagai jenis tanah tetapi terbaik tumbuh di tanah yang memiliki saluran air yang baik dengan penyiraman teratur untuk membentuk sistem akar yang dalam. Perawatannya umumnya mudah karena adaptabilitasnya dan ketahanannya terhadap hama dan penyakit.


Referensi

Anonimous. (2018). Palem Raja. Retrieved from Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas.

Anonimous. (n.d.). Panduan Perawatan Tanaman Palem Raja. Retrieved from PictureThis: https://www.picturethisai.com/id/care/Roystonea_regia.html

Helmidadang. (2012). Pohon Palem Raja. Retrieved from https://helmidadang.wordpress.com/2012/11/.../

Putu, B. (2018). Palem Raja (Roystonea regia). Retrieved from https://ganeshaflora.wordpress.com/

Setyaningsih, D. W. (2018). Pengaruh Lama Perendaman Terhadap Perkecambahan Dan Pertumbuhan Tanaman Palem Raja. AGRI-TEK: Jurnal Ilmu Pertanian, Kehutanan, dan Agroteknologi, 70-75.


Sawo Kecik - Manilkara zapota

Sawo Kecik - Manilkara zapota

 


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Ericales

Famili : Sapotaceae

Genus : Manilkara

Spesies : Manilkara zapota


Deskripsi

Sawo kecik (Manilkara zapota) adalah pohon buah yang dapat berbuah sepanjang tahun. Sawo kecik memiliki pohon yang besar dan rindang, dapat tumbuh hingga setinggi 30-40 m. Bunga tunggal terletak di ketiak daun dekat ujung ranting, bertangkai 1-2 cm, kerapkali menggantung, diameter bunga s/d 1,5 cm, sisi luarnya berbulu kecoklatan, berbilangan 6. Kelopak biasanya tersusun dalam dua lingkaran; mahkota bentuk genta, putih, berbagi sampai setengah panjang tabung (Morton, 1987). 

Daun tunggal, terletak berseling, sering mengumpul pada ujung ranting. Helai daun bertepi rata, sedikit berbulu, hijau tua mengkilap, bentuk bundar-telur jorong sampai agak lanset, 1,5-7 x 3,5-15 cm, pangkal dan ujungnya bentuk baji, bertangkai 1-3,5 cm, tulang daun utama menonjol di sisi sebelah bawah. Bercabang rendah, batang sawo kecik berkulit kasar abu-abu kehitaman sampai coklat tua. Seluruh bagiannya mengandung lateks, getah berwarna putih susu yang kental (Morton, 1987).

Buah buni bertangkai pendek, bulat, bulat telur atau jorong, 3-6 x 3-8 cm, coklat kemerahan sampai kekuningan di luarnya bersisik-sisik kasar coklat yang mudah mengelupas, sering ada sisa tangkai putik yang mengering di ujungnya. Berkulit tipis, daging buah lembut, coklat kemerahan sampai kekuningan, manis dan mengandung banyak sari buah. Berbiji sampai 12 11 butir, namun kebanyakan kurang dari 6, lonjong pipih, hitam atau kecoklatan mengkilap, panjang lebih kurang 2 cm, keping biji berwarna putih lilin (Morton, 1987).


Fungsi

Sawo kecik merupakan buah yang sangat populer di Asia Tenggara. Wilayah ini adalah produsen dan sekaligus konsumen utama buah ini di dunia (Juwita, 2013). Kebanyakan buah sawo kecik dimakan dalam keadaan segar. Sawo yang siap dikonsumsi adalah sawo matang. Sawo berkualitas baik adalah sawo yang empuk dan berwarna cokelat tua (Juwita, 2013).

Buah sawo memiliki rasa manis yang disebabkan kandungan gula dalam daging buah, yang kadarnya berkisar 16-20 persen. Daging buah sawo juga mengandung lemak, protein, vitamin A, B, dan C, serta mineral besi, kalsium, dan fosfor. Buah sawo juga mengandung asam folat, 14 mkg/100 g yang diperlukan tubuh manusia untuk pembentukan sel darah merah. Asam folat juga membantu pencegahan terbentuknya homosistein yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Astawan, 2008 (C, A, R, A, & H, 2010)), selain itu, buah ini juga baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah (Astawan, 2008).


Habitat

Sawo (Manilkara zapota) dikenal dengan nama sapodilla (Inggris) merupakan tanaman buah yang berasal dari Guatemala (Amerika Tengah), Meksiko dan Hindia Barat. Pada saat ini sawo telah tersebar ke negara-negara lain termasuk Indonesia yang merupakan tempat sawo tumbuh secara komersial (Sunarjono, 2007). Sawo kecik merupakan buah yang sangat populer di Asia Tenggara karena menjadi produsen dan konsumen utama buah ini di dunia (Astawan, 2011).

Tanaman sawo telah lama dikenal dan banyak ditanam di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari dataran rendah sampai tempat dengan ketinggian 1200 m dari permukaan laut seperti di pulau Jawa. Tanaman sawo telah menyebar luas di daerah tropik termasuk Indonesia. Pohon sawo dapat mencapai 20 m, buah berukuran bulat lonjong dengan permukaan kasar berwarna kecoklatan. Daging buah lunak, manis berair, dan berbiji hitam kecoklatan sebanyak hingga enam buah (Sunarjono, 2007).


Perawatan

Sawo kecik tidak memerlukan perawatan yang rumit. Pohon ini tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan, termasuk kekeringan. Untuk mendapatkan hasil buah yang optimal, pemangkasan dan penyiraman secara teratur sangat dianjurkan. Tanah tempat pohon ini tumbuh sebaiknya memiliki kandungan bahan organik yang tinggi dan kelembapan yang cukup. Penggunaan pupuk organik, seperti kompos, dapat meningkatkan produktivitas buah.


Referensi

Astawan, M. (2011). Buah Sawo Baik Untuk Jantung. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum.

C, O., A, M., R, K., A, S., & H, J. R. (2010). Agroforestree database: a tree reference and selection guide version 4.0. Retrieved from CIFOR-ICRAF: http://www.worldagroforestry.org/af/treedb/

Juwita, J. (2013). Aktivitas Antibakteri Ekstrak Buah Muda, Daun dan Kulit Batang Sawo Manila (Manilkara Zapota (L.) Van Royen) Terhadap Vibrio Cholerae dan Clostridium perfringens. S1 thesis, UAJY.

Morton, J. F. (1987). Sapodilla. (J) Fruits of Warm Climates. 

Sunarjono, H. (2007). Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah. Jakarta: Penebar Swadaya.


Palem putri  (Adonidia merrillii)

Palem putri (Adonidia merrillii)

 


Taksonomi

Kerajaan:Plantae  

Divisi:Tracheophyta  

Kelas:Liliopsida  

Ordo:Arecales  

Famili:Arecaceae  

Genus: Adonidia  

Spesies:Adonidia merrillii  


Deskripsi

Adonidia merrillii, atau dikenal sebagai Palem Putri, adalah spesies palem kecil yang berasal dari Filipina dan sering digunakan sebagai tanaman hias. Tingginya bisa mencapai 5-6 meter dengan batang tunggal yang ramping dan halus. Daunnya menyirip dan melengkung, dengan panjang daun mencapai 1,5 meter. Tanaman ini menghasilkan bunga putih krem yang menarik, dan buah berwarna merah cerah yang menambah nilai estetikanya. Buah biasanya berbentuk bulat dan sering muncul dalam kelompok di bawah dedaunan (Martin & Prasad, 2018; Llamas, 2021).


Manfaat

1.Tanaman Hias: Adonidia merrillii sangat populer sebagai tanaman hias di taman-taman tropis dan subtropis serta untuk lanskap perkotaan. Palem ini sering ditanam di sepanjang jalan, taman, dan halaman rumah karena bentuknya yang simetris dan buah merah cerah yang menarik (Paget, 2021).

2.Penggunaan Ekonomi: Selain sebagai tanaman hias, Palem Putri juga digunakan dalam industri tanaman hias untuk dijual sebagai tanaman pot karena ukurannya yang kompak dan mudah dipindahkan. Ini juga sering digunakan dalam desain lansekap karena toleransi terhadap berbagai jenis tanah dan kebutuhan perawatannya yang rendah (Paget, 2021; Turner & Rybicki, 2022).


Perawatan

1. Cahaya. 

Palem Putri memerlukan sinar matahari penuh hingga setengah teduh untuk pertumbuhan optimal. Namun, mereka dapat mentoleransi sinar matahari langsung selama sebagian besar hari.

2. Air

Tanaman ini memerlukan penyiraman yang cukup teratur, terutama di daerah kering. Mereka lebih menyukai tanah yang lembab tetapi tidak tergenang air.

3. Tanah

Adonidia merrillii dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, tetapi lebih menyukai tanah dengan drainase baik yang kaya bahan organik.

4. Pemangkasan.

 Pemangkasan diperlukan untuk menghilangkan daun mati dan menjaga penampilan tanaman tetap rapi (Anderson & Daly, 2020; Llamas, 2021).


Habitat

Adonidia merrillii, atau Palem Putri, adalah spesies palem tropis yang berasal dari Filipina, khususnya di pulau Palawan dan Visayas. Palem ini tumbuh secara alami di hutan-hutan tropis yang lembab, dataran rendah, dan dekat pantai di daerah tropis dan subtropis. Habitat aslinya mencakup area dengan tanah yang cukup lembab dan kaya akan bahan organik, serta dengan paparan sinar matahari yang cukup (Martin & Prasad, 2018; Llamas, 2021).


Palem Putri umumnya ditemukan di area dengan suhu hangat sepanjang tahun, dan lebih menyukai iklim yang memiliki kelembaban tinggi. Spesies ini mampu tumbuh diberbagai jenis tanah, termasuk tanah berpasir di pesisir, asalkan tanah tersebut memiliki drainase yang baik. Di luar habitat aslinya, Palem Putri juga telah diintroduksi dan dibudidayakan di berbagai wilayah tropis dan subtropis di seluruh dunia, seperti di Florida dan Hawaii di Amerika Serikat, serta di beberapa negara Asia Tenggara lainnya karena keindahannya dan toleransinya terhadap berbagai kondisi lingkungan (Paget, 2021; Anderson & Daly, 2020).


Daftar Pustaka

Martin, C. E., & Prasad, P. V. (2018). "Palm Trees: Growth, Distribution, and Species Diversity." Journal of Tropical Horticulture, 12(3), 45-59.  

Llamas, K. A. (2021).Ornamental Palms for Subtropical Gardens. Miami: University of Florida Press.

Paget, M. (2021). "Palms in Urban Landscaping: Uses, Management, and Conservation." Journal of Horticulture and Forestry, 13(3), 45-53.  

Turner, K. G., & Rybicki, J. (2022). "The Ecological Impact of Ornamental Palms in Non-native Environments." Biological Invasions, 24(5), 1095-1108. 

Anderson, D. A., & Daly, D. C. (2020). "Economic Botany of the Palm Genus Adonidia." Economic Botany, 74(1), 59-74.