Memasang Plat TNOP Bersama Arkadia

Memasang Plat TNOP Bersama Arkadia

 


    Hallo Sobat Dikbang. Apa kabar semua? Semoga selalu dalam keadaan sehat yaa. Kali ini Sobat Dikbang bakal dengar nih salah satu agenda kerja dari divisi dikbang. Sebelumnya udah pada tau belum, Apa sih TNOP itu? Tak kenal maka tak tau, oleh karena itu mari berkenalan. TNOP atau singkatan dari The Naming of Plant. Lebih jelasnya, TNOP adalah kegiatan penamaan tumbuhan. Eitss, bukan kita memberikan nama kepada tumbuhan. Melainkan memberikan plat nama-nama tumbuhan kepada pohon-pohon yang menjadi sasaran target wilayah TNOP. Dimana tahun lalu sasaran TNOP ini hanya pepohonan sekitar Fakultas Sains dan Teknologi dan Pusat Laboratorium Terpadu. Pada tahun ini Divisi Dikbang memperluas wilayah target menjadi seluruh wilayah Kampus 1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dimana pada tahun ini Divisi Dikbang bekerja sama dengan Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arkadia dalam pelaksanaannya. Tepatnya tanggal 24 Juni 2022 Divisi Dikbang dan KPA Arkadia melakukan serah terima MoU.


Serah terima MoU Dikbang x Arkadia (dok. TNOP 2022)

    Pelaksanaan TNOP Dikbang x Arkadia ini dilaksanakan dua kali pertemuan. Pertemuan pertama pada hari Rabu, 13 Juli 2022 sedangkan pertemuan kedua pada hari Sabtu, 17 September 2022. Ngapain aja sih Sobat  Dikbang di kegiatann TNOP ini? Pada hari pertama anggota Dikbang dan Arkadia berkumpul di sekretariat Akrkadia untuk melakukan identifikasi pohon-pohon Kampus 1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Berbekal aplikasi identifikasi pohon dan kamera handphone kami mengidentifikasikan pohon-pohon. 


Kegiatan identifikasi pohon (dok. TNOP 2022)

        Jarak  anatara kegiatan pertama dan kedua ini kami gunakan untuk mengolah dan mengumpulkan referensi akurat dari data-data identifikasi pohon yang kita dapatkan. Setelah mendapat data yang akurat dan valid dari beberapa referensi dilanjut dengan membuat plat-plat TNOP yang akan kita pasang di kegiatan kedua. Berapa banyak sih pohon-pohon yang kita identifikasikan Sobat Dikbang? Sebanyak 28 spesies pohon berhasil kami identifikasi Sobat Dikbang. Dimana ada beberapa pohon yang masih belum dapat kami identifikasi karena kurangnya informasi juga sulitnya data dilapangan. Namun sejauh ini jumlah plat yang kami buat ada 48 plat TNOP dari 28 spesies yang kami identifikasi Sobat Dikbang. Dimana tahun lalu ada sekitar 17 plat yang terpasang. Sekarang menjadi 65 plat terpasang di Kampus 1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.




Pemasangan plat TNOP (dok. TNOP 2022)

        Pada tahun ini terdapat perbedaan design plat TNOP dari tahun sebelumnya loh Sobat Dikbang. Pastinya kami hadir untuk membuat Sobat Dikbang semakin bertambah pengetahuannya dengan melihat Plat TNOP ini loh. Jadi, pada plat TNOP Dikbang x Arkadia ini terdapat QR-Code yang akan membawa Sobat Dikbang menuju ke website yang berisikan artikel mengenai pohon tersebut lohh. Dari mulai Klasifikasi ilmiah, Deskripsi, Manfaat, hingga Cara merawatnya. Yukk Sobat Dikbang yang penasaran langsung scan aja kalo ketemu sama plat TNOP ini.


Design terbaru TNOP (dok. TNOP 2022)

        Tak terasa nih Sobat Dikbang. Sudah semua kami perkenalkan tentang TNOP Dikbang x Arkadia ini. Kami berharap dengan adanya plat TNOP ini dapat menjadi salah satu perantara Sobat Dikbang untuk mengenal pohon-pohon. Salah satunya pohon-pohon di Kampus 1 UIN Syarif Hidayatullah. Dimana dengan mengenal tumbuhan disekitar kita diharapkan mampu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Bahwa tidak hanya kita yang menempati bumi. Namun, ada makhluk hidup lainnya yang turut berkontribusi untuk keberlangsungan hidup kita. See you next article Sobat Dikbang.

Yuk kenali dan lestarikan tumbuhan

 

Salam Lestari

Salam Konservasi

 

 

 

Penulis :

Fathnun Nur Husnina

Pepaya - Carica papaya

Pepaya - Carica papaya

 




Klasifikasi ilmiah
Kingdom          : Plantae
Sub kingdom  : Tracheobionta
Super divisio  : Spermatophyta
Divisi                : Magnoliophyta
Kelas                : Magnoliopsida
Subkelas          : Dilleniiidae
Ordo                : Violales
Famili               : Caricaceae
Genus              : Carica
Spesies            : Carica papaya L.
Putra (2015)

Deskripsi
    Nama pepaya dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Belanda “papaja” dan pada masa lainnya diambil dari Arawak”papaya”. Dalam bahasa jawa disebut “kates” dan bahasa sunda disebut “gedang”. Nama daerah lain dari pepaya yaitu peute, betik, ralempaya, punti kayu (Sumatra), pisang malaka, bandas, manjan (Kalimantan), kalajawa, padu (Nusa Tenggara), kapalay, kaliki, unti jawa ( Sulawesi). Nama asing pepaya antara lain papaya (Inggris) dan fan mu gua (Cina) (Herbie, 2015).

    Pohon pepaya umumnya tidak bercabang atau bercabang sedikit, tumbuh hingga setinggi 5-10 m dengan daun-daunan yang membentuk serupa spiral pada batang pohon bagian atas.daunnya menyirip lima dengan tangkai yang panjang dan berlubang dibagian tengah. Bunga pepaya memiliki mahkota bunga berwarna kuning pucat dengan tangkai pada batang. Bunga biasanya ditemukan pada daerah sekitar pucuk. Bentuk buah bulat hingga memanjang, dengan ujung biasanya runcing. Warna buah ketika muda hijau gelap dan setelah masak hijau muda hingga kuning. Daging buah berasal dari karpela yang menebal,berwarna kuning hingga merah tergantung varietasny. Bagian tengah berongga. Biji-biji pada buah yang masih muda berwarna putih dan pada buah yang sudah masak berwarna hitamatau kehitaman dan terbungkus semacam lapisan berlendir untuk mencegahnya dari kekeringan (Putra, 2015).

Manfaat
    Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sylvia (2017) diketahui bahwa biji pepaya mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin,dan alkaloid. Menurut hasil uji fitokimia yang dilakukan oleh penulis dapat diketahui bahwa biji buah pepaya mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, fenol, dan kuinon. Ada beberapa kandungan dari biji buah pepaya (Carica papaya L.) sebagai zat antibakteri yaitu :
  1. Flavanoid, Flavanoid merupakan senyawa polar yang umumnya mudah larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol dan aseton. Flavanoid merupakan golongan terbesar dari senyawa fenol mempunyai sifat efektif menghambat pertumbuhan virus, bakteri dan jamur. Senyawa-senyawa flavanoid umumnya bersifat antioksidan dan banyak digunakan sebagai bahan baku obat-obatan (Parwata, 2016).
  2. Tanin, Tanin merupakan senyawa fenol bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan bakteri dengan mengadakan denaturasi protein dan menurunkan tegangan permukaan, sehingga permeabilitas bakteri meningkat. Kerusakan dan peningkatan permeabilitas sel bakteri menyebabkan pertumbuhan sel terhambat dan akhirnya dapat menyebabkan kematian sel (Ergina, Nuryanti and Pursitasari, 2014).
  3. Alkaloid, Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. Alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri. Mekanisme yang diduga adalah dengan cara mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel (Saifudin, 2014).
  4. Fenol, Senyawa fenol memiliki sifat yang dapat merusak membran sel yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan atau matinya sel karena perubahan permeabilitas sel. Senyawa fenol juga dapat mendenaturasi protein sel dan mengerutkan dinding sel sehingga dapat melisiskan dinding sel jamur. Selain itu, Senyawa fenol melalui gugus hidroksi yang akan berikatan dengan gugus sulfihidril dari protein fungi sehingga mampu mengubah konformasi protein membran sel target (Kumalasari, 2015).
  5. Kuinon, Kuinon dapat menghambat respirasi sel. Selain itu, kuinon dapat menerima elektron rantai respirasi, proses ini dapat menghasilkan pembentukan radikal bebas dan merusak mitokondria. Aktivitas kuinon menyebabkan cyanideresistant respiration, yaitu kurangnya pasokan oksigen dalam proses respirasi (Husnawati, 2018).
    Biji buah pepaya juga mengandung senyawa yang mempunyai aktivitas antibakteri yang menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan gram negatif. Biji pepaya juga mempunyai efek antibakteri yang dapat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kulit kronis, contohnya ektima. Benih pepaya tersebut, juga memiliki aktivitas antimikrobia terhadap Trichomonas vaginalis. Biji ini juga bisa digunakan untuk gangguan urinogenital seperti trikomoniasis dengan pemakaian yang hati-hati untuk mencegah toksisitas (Kharisma, 2017).



Referensi

Ergina, N. S. and Pursitasari, D. (2014). Uji Kualitatif Senyawa Metabolit Sekunder Pada Daun Palado (Agave Angustifolia) Yang Diekstraksi Dengan Pelarut Air dan Etanol, J. Akad. Kim, 3(August), pp. 165– 172.

Herbie, T. (2015). Kitab Tanaman Berkhasiat Obat 266 Tanaman Obat Untuk Penyembuhan Penyakit dan Kebugaran Tubuh. (Adhe, Ed.) Yogyakarta: OCTOPUS Publishing House.

Husnawati. (2018). Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Kirinyuh ( Eupatorium odoratum L) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti Sebagai Pengayaan Praktikum Fisiologi Hewan. Available at: http://eprints.unram.ac.id/10653/.

Kharisma, Y. (2017). Tinjauan Pemanfaatan Tanaman Pepaya Dalam Kesehatan. pp. 1–14. Available  at http://repository.unisba.ac.id/bitstream/handle/123456789/8319/kharisma_mak_tinjauan_pemanfaatan_tanaman_pepaya_dalam_kesehatan_2 017_sv.pdf?sequence=1&isAllowed=y .

Kumalasari, E. N. S. (2015). Aktivitas Antifungi Ekstrak Etanol Batang Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen.) Terhadap Candida albicans Serta Skrining Fitokimia. Science, 1(2), 51–62.

Parwata, I. M. O. A. (2016). Flavonoid. Diktat / Bahan Ajaran Kimia Organik Alam, p. 56.

Putra., W. S. (2015). Kitab Herbal Nusantara Kumpulan Resep dan Ramuan Tanaman Obat Untuk
Berbagai Gangguan Kesehatan. (Andien, Ed.) Yogyakarta: Katahati.

Saifudin, A. (2014). Senyawa Alam Metabolit Sekunder Teknik, Konsep, dan Teknik Pemurnian. 1st edn. Yogyakarta: Deepublish.

Sylvia, O. (2017). Perbandingan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Biji Pepaya (Carica papaya L.) Dari Dua Varietas terhadap Bakteri Escherichia coli Ovalina, Jurnal Stikna, 1(2), pp. 183–188.



Penulis :
Wanda Sopiah


Sukun - Artocarpus altilis

Sukun - Artocarpus altilis

 


Klasifikasi ilmiah

Kingdom          : Plantae

Divisi               : Spermathophyta 

Subdivisi          : Angiospermae

Kelas                : Dicotyledonae 

Ordo                : Urticales

Famili              : Moraceae

Genus              : Arthocarpus

Spesies             : Arthocarpus altilis (Anwar, 2009).

 

Deskripsi

Sukun (Artocarpus altilis) merupakan salah satu tanaman penghasil buah utama dari keluarga Moraceae. Tanaman ini sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia bahkan di beberapa negara di kawasan Pasifik seperti Fiji, Tahiti, Kepulauan Samoa, dan Hawai, buah sukun telah dimanfaatkan sebagai makanan pokok tradisional, akan tetapi bagi masyarakat Indonesia, konsumsi buah sukun umumnya masih terbatas sebagai makanan ringan dan sayur. Sebagai salah satu sumber bahan pangan alternatif, buah sukun terbukti memiliki kandungan gizi cukup tinggi (Hamdan, dkk, 2012).

    Tanaman sukun memiliki batang kayu yang lunak, kulit batang berwarna hijau kecoklatan, berserat kasar dan pada semua bagian tanaman memiliki getah encer. Akar tanaman sukun biasanya ada yang tumbuh mendatar atau menjalar dekat permukaan tanah dan dapat menumbuhkan tunas alami. Tanaman sukun berdaun tunggal yang bentuknya oval-lonjong. Bunga sukun berumah satu (monoceous), terletak pada ketiak daun dengan bunga jantan berkembang terlebih dahulu. Buah sukun berbentuk bulat sampai lonjong dengan ukuran panjang bisa lebih dari 30 cm, lebar 9-20 cm, dengan daging buah berwarna putih, putih-kekuningan atau kuning (Hamdan, dkk, 2014).


Manfaat

    Buah sukun mengandung berbagai jenis zat gizi utama yaitu karbohidrat 25%, protein 1,5% dan lemak 0,3% dari berat buah sukun. Selain itu buah sukun juga banyak mengandung unsur-unsur mineral serta vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Unsur-unsur mineral yang terkandung dalam buah sukun antara lain adalah Kalsium (Ca), Fosfor (P) dan Zat besi (Fe), sedangkan vitamin yang menonjol antara lain adalah vitamin B1, B2 dan vitamin C. Kandungan air dalam buah sukun cukup tinggi, yaitu sekitar 69,3%. Pemanfaatan buah sukun sangat menguntungkan karena mengandung zat gizi yang tinggi sebagai sumber energi (kalori) juga mengandung zat-zat yang berguna bagi kesehatan. Adanya senyawa-senyawa seperti plavanid, saponin dan poliphenol yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan terhadap beberapa penyebab penyakit mengindikasikan kegunaan bahan tanaman sukun sebagai bahan obat. Pemanfaatan bahan tanaman sukun sebagai obat tradisional (herbal) telah banyak dilaporkan oleh masyarakat, walaupun secara medis belum banyak dikembangkan. Antara lain dapat menurunkan kolesterol, asam urat, gangguan pada ginjal dan jantung (Hamdan, dkk, 2014).


Referensi

Anwar Syadat Siregar. (2009). Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) pada Berbagai Ketinggian di Sumatera Utara. Medan: Universitas Sumatera Utara. hal : 3.


Hamdan Adma Adinugraha, Noor Khomsah Kartikawati. (2012). Variasi Morfologi dan Kandungan Gizi Buah Sukun. Jurnal Wana Benih. Vol. 13, No. 2. Yogyakarta: Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. hlm. 99-100.


Hamdan Adma Adinugraha, Noor Khomsah Kartikawati, Dedi Setiadi, Prastyono. (2014). Pengembangan Teknik Budidaya Sukun (Artocarpus altilis) untuk Ketahanan Pangan. Jakarta: IPB Press. hlm. 3-4.



Penulis :

Wanda Sopiah

 Kamboja – Plumeria rubra

Kamboja – Plumeria rubra


Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Gentianales

Famili : Apocynaceae

Genus : Plumeria

Spesies : Plumeria rubra

(Network 2003) (Khafidzin 2005)


Deskripsi

Tanaman kamboja berukuran sekitar 3-7 m, dan memilki getah putih. Tanaman asal Amerika tropik ini biasanya ditanam sebagai tanaman hias dipekarangan, taman, kuburan, atau tumbuh liar. Tumbuh dari dataran rendah sampai 700 mdpl. Batang pokok besar, tumbuh membengkok, berkayu keras, percabangan banyak dan besar, berdaging, sedangkan cabang muda lunak dan terdapat tanda bekas tangkai daun yang telah lepas (Dalimartha 2003).

Bunga kamboja memiliki lima helai kelopak yang besar yang bentuknya hampir sama. Namun, setiap jenisnya memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda. Bunga kamboja senantiasa muncul bergerombol pada tiap ujung cabangnya. Masing-masing tangkai mahkota bunga panjangnya berbeda-beda sesuai dengan jenisnya, berkisar 20-40 cm. Bunga dalam malai rata, berkumpul di ujung ranting, bentuk corong, mahkota bunga warna putih atau merah, dan berbau harum. Helaian daun bersifat kaku, bentuk lanset, panjang sekitr 20 cm, lebar 6-12,5 cm, ujungnya meruncing, pangkal daun menyempit, tepi rata, dan tulang daun menyirip


Fungsi

Kamboja cukup dikenal sebagai obat tradisional. Penggunaan genus kamboja baik kulit batang, getah dan daunnya oleh masyarakat sebagai bahan obat tradisional sangat banyak ragamnya dan digunakan secara turun-temurun. Kulit batang kamboja berbunga putih oleh masyarakat sering digunakan sebagai obat patek (frambosia), obat luar untuk kulit pecah-pecah pada telapak kaki, sedangkan air rebusannya dimanfaatkan untuk merendam kaki bengkak. Getah dan daunnya dimanfaatkan untuk mempercepat pecahnya bisul dengan cara dioles sedikit minyak kelapa (Tampubolon 1995). Bunga kamboja juga banyak digunakan sebagai campuran Parfum, kosmetik dan dapat digunakan sebagai campuran teh kombocha (S.N. Handayani & K. Riyani 2008). Daun Kamboja berkhasiat sebagai penenang saraf, mengatasi insomnia, sakit kepala, dan obat bisul. Akar digunakan sebagai obat wasir (ambeien), getahnya digunakan untuk menghilangkan kapalan pada tangan dan kaki. Getah, daun, kulit batang, akar serta seluruh bagian tumbuhan kamboja dapat digunakan untuk mencegah pingsan akibat udara panas, disentri, TBC, cacingan, sembelit, sakit gigi berlubang dan bisul (Hariana 2006).


Habitat

Tanaman kamboja berasal dari Amerika Tropik, seperti Meksiko, Kolombia, Ekuador, tanaman ini menyebar ke daerah-daerah beriklim panas lainnya, seperti Asia termasuk Indonesia dan dapat bertumbuh pula pada iklim sub tropis (Heerdjan, A.S. & Heerdjan, F.S 2005). Kamboja asli Indonesia merupakan kamboja yang bunganya memiliki warna putih dengan bagian dalam berwarna kuning dan memiliki kuntum tidak terbuka penuh serta berukuran kecil, jenis bunga ini banyak ditemui di pemakaman tua di Jawa juga hampir di seluruh pura, tempat peribadatan umat Hindu Bali (WS. Don, et al 2002)

.

Referensi


Dalimartha, S. 2003. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3. Jakarta: Puspa Swara.

Hariana, H.A. 2006. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya (seri 2). Jakarta: Penebar Swadaya.

Heerdjan, A.S. & Heerdjan, F.S. 2005. Tanaman Berbunga Harum. Jakarta: Penebar Swadaya.

Khafidzin, M. 2005. Plumeria ; Kamboja cantik Penghias Taman. Jakarta: Penebar Swadaya.

Network, Germplasm Resources Information. 2003.

S.N. Handayani & K. Riyani. 2008. "Analisis Senyawa Kimia dalam Ekstrak Klorofom Bunga Kamboja (Plumeria alba) dengan Gc-Ms. ." Molekul, 3 (2) 107-113.

Tampubolon, O. 1995. Tanaman Obat. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

WS. Don, et al. 2002. Morfologi tanaman kamboja. 



Hauzan Fathurrohman


Tanjung - Mimusops elengi

Tanjung - Mimusops elengi

 



Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Ebenales

Famili : Sapotaceae 

Genus : Mimusops

Spesies : Mimusops elengi L. 

(Badrunnasar, Anas & Nurahmah, Y. 2012) (Khair 2020)


Deskripsi

Tanjung (Mimusops elengi) merupakan sejenis pohon yang berasal dari India, Sri Lanka dan Burma. Telah masuk ke Nusantara semenjak berabad-abad yang silam, pohon ini juga dikenal dengan nama-nama seperti tanjong (Bug., Mak.), tanju (Bim.), angkatan, wilaja (Bal.), keupula cangè (Aceh), dan kahekis, karikis, kariskis, rekes (aneka bahasa di Sulut) (Heyne 1987). Pohon tanjung berbunga harum semerbak dan bertingkat rindang, biasa ditanam di taman-taman dan sisi perlintasan. Pohon mempunyai ukuran sedang, tumbuh sampai ketinggian 15 meter. Daun-daun tunggal, tersebar, bertangkai panjang; daun yang termuda berambut coklat, yang segera gugur. Helaian daun bundar telur sampai melonjong, panjang 9–16 cm, seperti jangat, bertepi rata namun menggelombang. (Steenis 1987)


Fungsi

Bunganya yang wangi mudah rontok dan dikumpulkan di pagi hari kepada mengharumkan pakaian, ruangan atau kepada adunan, sehingga tanaman ini pun juga cocok untuk dijadikan tanaman kota . Bunga ini, dan aneka anggota tumbuhan lainnya, juga mempunyai khasiat obat. Buahnya bisa dimakan.

Cairan rebusan pepagannya dipergunakan sebagai obat penguat dan obat demam. Rebusan pepagan beserta bunganya dipergunakan kepada mengatasi murus yang ditemani demam. Daun segar yang digerus halus dipergunakan sbg tapal obat sakit kepala; daun yang dirajang sebagaimana tembakau, dicampur sedikit serutan kayu secang dan dilinting dengan daun pisang, dipergunakan sebagai rokok kepada mengobati seriawan mulut. Kulit akarnya berisi banyak tanin dan sedikit alkaloid yang tidak beracun. Minyak yang diekstrak dari biji tumbuhan ini berisi beberapa asam lemak. Akarnya yang dicampur dengan cuka bisa dipergunakan kepada mengobati sakit tenggorokan. (Dharma 1987)


Habitat

Pohon Tanjung atau bahasa latinnya Minusops elengi ini adalah spesies yang berasal dari negara India, Sri Lanka dan Burma. Pohon Tanjung tergolong dalam bagian famili Sapotacea yang biasanya banyak ditanami di pinggir jalan perkotaan sebagai peneduh jalan, bagian halaman perkantoran dan pekarangan rumah. Jenis tanaman ini sangat bagus untuk dijadikan komponen taman kota sekaligus untuk tanaman peneduh jalan (Badrunnasar, Anas & Nurahmah, Y. 2012).


Referensi


Badrunnasar, Anas & Nurahmah, Y. 2012. Pertelaan Jenis Pohon Koleksi Arboretum Balai Penelitian Teknologi Agroforestry. 

Dharma, A.P. 1987. "Indonesian Medicinal Plants [Tanaman-Tanaman Obat Indonesia]." 190. Jakarta: Balai Pustaka.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Bermanfaat Indonesia, jil. 3. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.

Khair, Ummul. 2020. PENGGUNAAN DAUN TANJUNG (Mimusops elengi L.) SEBAGAI BIOINDIKATOR KONTAMINAN TIMBAL (Pb) DAN SENG (Zn) DI JALAN KOTA BANDA ACEH. Tugas Akhir, Banda Aceh: UIN AR-RANIRY BANDA ACEH.

Steenis, Van. 1987. "Flora, kepada sekolah di Indonesia." 338 - 339. Jakarta: PT Pradnya Paramita.


Hauzan Fathurrohman


Tabebuya Bunga Kuning - Tabebuia aurea

Tabebuya Bunga Kuning - Tabebuia aurea



Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae 

Divisi : Anggiosperms

Kelas : Asterids

Ordo : Lamiales

Famili : Bignoniaceae

Genus : Tabebuia

Spesies         : Tabebuia aurea


Deskripsi

Tabebuya mnerupakan tanaman yang berasal dari negara Brasil dan termasuk ke dalam pohon besar. Tabebuya mempunyai ketahanan hidup yang lama dan mampu beradaptasi dalam rentang kondisi yang cukup luas (Sistem Informasi Tanaman Bermutu). Tanaman Tabebuya memiliki bunga yang berbeda-beda warnanya. Ada yang berwarna kuning dan berbentuk terompet, berwarna pink, ungu, dan merah tua. 


Fungsi

Tanaman Tabebuya ini dapat berfungsi sebagai tanaman hias taman, dan mampu membersihkan udara dari polutan yang berbahaya (Sistem Informasi Tanaman Bermutu). 


Habitat

Habitat tanaman Tabebuya ini di daerah beriklim kering (subtropis dan tropis), sehingga tanaman memiliki ketahanan hidup yang lama dalam cuaca kering. Tanaman ini dapat hidup di berbagai jenis tanah (University of Florida). 


Perawatan 

Perawatan untuk tanaman Tabebuya ini lumayan mudah, hanya perlu dilakukan pemangkasan guna menghilangkan tangkai yang mati atau rusak. 


Referensi 

"Trumpet Trees - Gardening Solutions - University of Florida, Institute of Food and Agricultural Sciences". gardeningsolutions.ifas.ufl.edu . Diakses tanggal 6 Agustus 2022 pukul 17.45 WIB.

Sistem Informasi Tanaman Bermutu. Perencanaan Penghijauan. https://sitamu.sda.pu.go.id/perencanaan_tanaman.php. Diakses pada tanggal 6 Agustus 2022 pukul 17.33 WIB. 




Penulis :
Ratu Farhah Salsabila
 Jambu Air - Syzygium samarangense

Jambu Air - Syzygium samarangense



Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae

Divisi : Magniliophyta

Kelas : Magnoliopsida 

Ordo : Myrtales 

Famili : Myrtaceae 

Subfamili : Rosidae

Genus : Syzygium 

Spesies         : Syzygium samarangensen


Deskripsi

Tanaman Jambu Air berasal dari Indo Cine dan di Indonesia , Malaysia, dan pulau-pulau Pasifik. Tanaman ini berkembangbiak dengan cara generatif, dimana pada bunga tanaman terdapat serbuk sari (jantan) dan putik (betina) (Kementerian Pertanian, 2019). 


Fungsi

Buah Jambu Air dapat mengontrol penyakit diabetes, melancarkan pencernaan, pencegahan kanker, detoksifikasi, menyehatkan jantung, meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Rebusan kulit tanaman jambu air dapat meringankan bronchitis, asma, dan suara serak. Bunganya dapat menurunkan demam. Bijinya dapat digunakan sebagai obat untuk menurunkan demam dan asma (Tim Mitra Agro Sejati, 2017)


Habitat

Tanaman Jambu Air dapat tumbuh pada tempat yanag bercurah hujan sekitar 500-3000 mm/tahun disertai dengan musim kemarau selama 4 bulan. Tanaman ini memerlukan cahaya matahari berkisar 40-80% untuk membantu proses fotosintesisnya. Suhu yang ideal untuk menanam tanaman jambu air ini yaitu berkisar 18-29 derajat celsius. Tingkat kelembapan udara nya berkisar 50-80% (Tim Mitra Agro Sejati, 2017). 


Perawatan

Perawatan tanaman Jambu Air ini mudah, dalam pemupukan dilakukan pada saat tanaman sebelum dan sesudah berbuah. Pupuk yang diberikan yaitu pupuk kandang, urea, KCL dan TSP (Tim Mitra Agro Sejati, 2017). 


Referensi 

Kementerian Pertanian. 2019. Karakteristik Jambu Air. http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/86837/KARAKTERISTIK-JAMBU-AIR/ . Diakes pada taggal 6 Agustus 2022 pukul 17.10 WIB. 

Tim Mitra Agro Sejati. 2017. Budi Daya Jambu Air. CV Pustaka Bengawan.



Penulis :

Ratu Farhah Salsabila